Komet - Penjelajah Kecil Tata Surya

Posted on Wednesday, March 11, 2009 by Sang Petualang

Penjelajah kecil di Tata Surya yang satu ini khas penampilannya, yang kadang begitu panjang seperti punya ekor. Tidak salah kalau disebut komet yang berarti si rambut panjang. Julukan lainnya bintang berekor, bintang sapu, bintang berasap. Populer di Jawa Tengah sebagai lintang kemukus.

Penampakannya di langit malam berbeda dengan anggota Tata Surya lain. Seolah berkabut, tidak setegas citra bintang atau planet. Ada tidaknya penampakan ekor juga tergantung arah pandang si pengamat. Ibarat melihat menara dari samping ataukah dari atas. Walau ekornya sangat panjang, kalau kita mengamati dari arah depan tentu tidak terlihat. Komet pun (umumnya!) mengedari Matahari, lintasan ellips dengan eksentrisitas relatif besar. Bila cemerlang, dapat dilihat mata bugil. Berbeda dengan meteor yang sekejapan saja muncul, komet dapat dilihat pergeserannya di lautan bintang bila kita amati (petakan) dalam waktu beberapa hari, minggu (seperti komet Lulin bulan Februari/Maret lalu), bahkan berbulan-bulan. Bila suatu saat pada awal malam kita dapat melihat sebuah komet dan malam itu cerah hingga pagi, maka komet itu semalaman dapat kita amati terus tanpa putus – namun belum tentu kita bisa melihat pergeserannya relatif terhadap latar belakang bintang-bintang.


Banyak ahli mencoba menguak misteri komet yang antara lain Edmund Halley yang dengan perhitungan orbitnya berhasil memprediksi sebuah komet yang sifat pemunculannya tiap 76 tahun sekali. Kini komet tersebut diberi nama komet Halley. Tampil terakhir tahun 1985/1986. Juga Whipple yang meneliti strukturnya dan Jan Oort yang mengupas asal usulnya.


Jauh di tepi Tata Surya, antara 40.000 – 150.000 s.a ada selubung awan materi tersusun dari milyard bongkah salju kotor (maksudnya aneka unsur). Diduga sebagai sisa pembentukan Tata Surya. Karena pertama kali dijabarkan oleh Oort, maka materi ini disebut Awan Oort. Formasi mirip kulit bola yang mengungkungi Tata Surya.


Matahari dengan gravitasinya yang kuat sering menarik materi tadi. Jadi suatu saat ada yang mendekati planet termasuk Bumi. Oleh sebab itu bisa terlihat. Saat materi bongkah salju ini (inti komet yang umum berukuran 0,5 – 40 km) mendekat Matahari tentu mengalami pemanasan, terjadilah proses penguapan dan sublimasi (padat ke gas). Terciptalah selubung/selimut gas – debu di permukaannya. Makin dekat Matahari, selimut ini yang disebut coma makin tebal. Bisa berdiameter sampai 250.000 km.


Adanya tekanan radiasi dan angin Matahari membuat sebagian coma terdorong menjauhi Matahari, maka terbentuklah ekor yang bisa mencapai ratusan juta km. Arah ekor selalu menjauhi Matahari dan terpanjang di perihelion, dan biasanya ada 2 jenis ekor. Yang terbentuk dari partikel bermuatan (ion) berciri sempit – lurus. Ada ekor debu berciri lebar berkabut dan kadang melengkung akibat gerak.


Melihat proses ini, maka di sepanjang jejak lintas orbitnya banyak tertinggal materi. Jika Bumi masuk daerah ini, bisa terjadi hujan meteor. Sebagai catatan, ada beberapa asteroid yang bertingkah mirip komet. Meninggalkan jejak materi dan bisa juga menimbulkan hujan meteor. Contoh hujan meteor adalah Leonid (titik radian di rasi Leo, dan berkait dengan komet Tempel-Tuttle, 15-20 November).


Atas dasar periode terlihatnya, dikenal komet periode pendek semisal Encke (3,3 tahun), Biela (6,7 tahun), Halley, Swift-Tuttle (134 tahun). Ada komet periode panjang seperti Hale-Bopp (2.400 tahun, terakhir terlihat tahun 1995/6) dan Kohoutek (75.000 tahun, terakhir tahun 1973). Uniknya ada komet yang tidak mengedari Matahari tapi mengedari Jupiter. Ada 40-an buah dan salah satunya sempat jatuh ke Jupiter tahun 1994 dimana masyarakat dapat mengikuti peristiwanya dari awal pecahnya komet sampai menabrak planet raksasa tersebut yaitu komet Shoemaker-Levy 9.


selamat belajar bagi kelas XII yang sedang menempuh tryout, test, dsb .. dsb

salam wr

No Response to "Komet - Penjelajah Kecil Tata Surya"

Popular Posts