Showing posts with label Asteroid. Show all posts
Showing posts with label Asteroid. Show all posts

Eksotisme Komet Panstarss dan Cara Mengamatinya

Tahun 2013 tak pelak menjadi momen unjuk gigi bagi para penjelajah kecil tata surya. Setelah tahun sebelumnya sempat disibukkan oleh isu kiamat 2012 dan prediksi puncak siklus aktifitas matahari, para penikmat astronomi kali ini memalingkan perhatiannya kepada para penjelajah antar planet ini.

Batuan Angkasa yang Mengejutkan
Parade sang Planet Minor diawali dengan kehadiran si fenomenal Asteroid Apophis. Namanya yang bermakna penghancur benar-benar membuat penikmat langit bergidik saat dia melintas dekat dengan bumi pada 9 Januari 2013, dengan jarak yang ‘cukup’ dekat, 15 juta km. Dijuluki sebagai penghancur, karena pada saat ditemukan pada tahun 2004, hasil kalkulasi awal menemukan bahwa jalur asteroid tersebut berpotensi menabrak bumi pada tahun 2036. Dengan ukuran yang mencapai 325 meter, tabrakan terhadap permukaan bumi dapat berakibat sangat fatal. Untungnya, hasil observasi termutakhir semakin mengurangi potensi itu.

Kurang dari satu setengah bulan setelahnya, penikmat langit kembali dibuat menahan nafas. Asteroid 2012 DA14 ikut melakukan perlintasan dekat dengan bumi dengan jarak yang tidak tanggung-tanggung,  27.700 km, atau lebih dekat dari jarak tempat warga bumi biasa meletakkan satelit buatannya. Dengan diameter selebar setengah lapangan sepak bola, perlintasan dengan jarak sedekat itu membuatnya menorehkan rekor perlintasan dekat bagi benda seukurannya.

Citra Asteroid 2012 DA14 oleh teleskop Radio Deep Space Network, Goldstone, California (AS)
Uniknya, kurang dari 24 jam sebelumnya, sebuah asteroid selebar 15 meter malah jatuh di daerah pegunungan Ural, Rusia. Ketika itu, birunya langit pagi hari dirobek oleh leretan api hasil gesekan atmosfer dan meninggalkan jejak asap raksasa yang memanjang di langit.  Tekanan udara membuat bola api itu hancur lebur dan menghasilkan bom suara yang melukai ribuan orang akibat terjangan pecahan kaca. Sisa serpihan asteroid kemudian berjatuhan di kota ketiga yang dilewatinya. Banyak orang yang berhasil merekamnya, dan rekaman serupa tentang terlihatnya leretan meteor besar juga muncul sehari setelahnya yang berasal dari Kalifornia, AS.

Hasil jepretan foto amatir tentang meteor yang jatuh di Rusia.

Hal ini tentu mengingatkan kita akan rentetan kejadian serupa sekitar 100 tahun yang lalu di daerah Siberia tahun 1908 dan daratan Amerika tahun 1913. Hal itu akhirnya membuat kita menyimpulkan bahwa apa yang sedang terjadi adalah sebuah siklus 100 tahunan.

Tak berhenti sampai disana, para penikmat langit kembali dibuat tegang saat sebuah asteroid berukuran sama seperti yang jatuh di Rusia, melintas dekat dengan bumi dengan jarak sejauh jarak bumi-bulan, 370.000 km, pada 4 maret lalu. Setelah diketahui sifat orbitnya, asteroid yang baru ditemukan 2 hari sebelumnya itu diketahui sebagai bagian dari objek Potentially Hazardous Asteroid (PHA), atau asteroid yang berpotensi berbahaya.

Komet Lovejoy
Momennya si Bintang Berasap
Setelah rentetan kejadian yang membuat tegang urat syaraf pada dua bulan pertama, prosesi parade sang Planet Minor kemudian dilanjutkan pada bulan ketiga. Kini saatnya si Rambut Gondrong tampil di teater langit dan menghibur para penggila astronomi. Ya, inilah si bintang berekor, Komet!

Si penjelajah kecil Komet sudah mencuri perhatian sejak akhir tahun 2011 yang lalu, saat komet Lovejoy ‘membentangkan’ ekor indahnya yang memanjang di langit pagi hari. Namun, tahun ini akan menjadi jauh lebih spektakuler. Tak tanggung-tanggung, akan ada sedikitnya 3 komet yang akan menampilkan pesonanya, yaitu Komet Lemmon, Komet Panstarrs dan Komet ISON. Komet yang disebutkan terakhir bahkan diprediksi akan menjadi komet paling terang dalam beberapa generasi terakhir.

Sementara Komet Lemmon terlihat sangat redup dengan magnitudo semu maksimal + 9.4, dan komet ISON baru akan hadir di akhir tahun, kita akan memfokuskan pembahasan pada primadona bulan Maret, Komet Panstarrss.

C/2011 L4 Panstarss
Sebutan Komet Pansstarss yang hangat diperbicangkan belakangan ini mengacu pada sebuah komet dengan nama asli C/2011 L4 (Panstarss). C berarti inisial untuk jenis komet non-periodik. 2011 tentu mengacu pada tahun dimana komet pertama kali ditemukan. L4 berarti bahwa ini adalah komet keempat yang ditemukan pada setengah pertama bulan Juni. Sementara kata Panstarss mengacu pada fasilitas teleskop yang digunakan untuk menemukan komet tersebut.

Panstarrs adalah kepanjangan dari The Panoramic Survey Telescope & Rapid Response System. Yaitu sebuah fasilitas teleskop dengan 4 buah cermin utama berdiameter masing-masing 1,8 meter yang diarahkan secara simultan ke arah yang sama. Tiap cermin dapat menguasai medan pandang langit sebesar 3 derajat dan dilengkapi oleh kamera dengan sensor total masing-masing sebesar 1,4 giga piksel.


Teleskop Pan-STARRS
Tujuan utama teleskop ini adalah untuk menemukan dan mengkarakterisasi objek-objek yang mengarah ke bumi, seperti komet dan asteroid, yang mungkin dapat membahayakan keselamatan planet kita. Fasilitas teleskop ini dikelola oleh Institut Astronomi Universitas Hawaii dan terletak di dekat puncak gunung Haleakala, Pulau Maui, Kepulauan Hawaii.

Sebagai teleskop besar dan canggih yang dikhususkan pada penemuan komet dan asteroid, Panstarrs tentu telah menemukan banyak sekali komet dan asteroid baru. Itulah sebabnya, kode Panstarss telah banyak sekali digunakan oleh benda-benda langit baru yang ditemukan. Oleh karena itu, jika kita mau menyebut salah satunya, sebut lah kode awalnya, misalnya C/2011 L4.

Komet C/2011 L4 Panstarss pertama kali ditemukan pada tanggal 6 juni 2011 pada kecerlangan magnitudo mencapai +19. Seperti yang sudah disebut di atas, komet ini dipertimbangkan sebagai komet non-periodik, yaitu jenis komet yang hanya akan menampakkan dirinya sekali seumur hidup. Diperkirakan komet ini membutuhkan waktu jutaan tahun untuk tiba di daerah sekitar matahari dan bumi sejak memulai perjalanannya dari kawasan awan Oort, sebuah awan raksasa yang mengelilingi sistem tata surya kita dan dipertimbangkan sebagai sisa-sisa materi pembentukan tata surya pada zaman awal. Para ahli mengatakan, saat komet melakukan titik perihelionnya terhadap matahari, gravitasi matahari akan memperpendek kala orbitnya menjadi ‘hanya’ 110 ribu tahun sekali putar. Itulah sebabnya komet ini disebut sebagai komet sekali seumur hidup.

Bagaimana Cara Mengamatinya?
Sejak dua minggu yang lalu, Komet Panstarrs sudah mulai teramati secara kasat mata bagi para penduduk di belahan bumi bagian selatan. Bagi kita yang berada di dekat khatulistiwa, posisi komet masih terlalu dekat dengan matahari sehingga sangat sulit untuk mengamatinya. Namun begitu, saat ini kita sudah bisa melihatnya sejak permulaan bulan maret hingga pertengahan nanti dengan kecerlangan magnitudo relatif antara + 2 hingga + 0,5.

Citra komet Panstarss dan Lemmon dari Gurun Atacama, Amerika Selatan
Menurut data ephemeris dari Minor Planet Center, puncak penampakan komet akan terjadi pada tanggal 9, 10 dan 11 maret dengan kecerlangan magnitudo mencapai + 0,5, saat itulah komet memasuki posisi perihelion (paling dekat) dengan matahari. Hal ini semakin baik untuk diamati karena pada tanggal-tanggal itulah sang komet memiliki jarak ketinggian maksimum dari matahari jika dilihat secara visual dari lokasi pengamat di daerah dekat ekuator seperti kita. Tepat saat matahari terbenam, komet akan berada di ketinggian 15 hingga 17 derajat dari ufuk, cukup tinggi secara posisi dan cukup lama secara waktu untuk dapat menikmati komet ini.

Pada puncak penampakannya, Komet akan memiliki magnitudo mencapai +0,5. Kecerlangan seperti itu sama seperti yang dimiliki oleh bintang terang seperti Betelgeuse di rasi Orion. Namun, ada satu hal serius yang harus dipertimbangkan. Tidak seperti bintang-bintang terang yang biasa kita amati di tengah malam yang gelap, komet terkenal terang karena posisinya yang dekat dengan matahari. Itu artinya, secara visual komet tidak akan pernah terlihat di tengah malam yang gelap, atau di ketinggian yang tinggi saat matahari terbenam. Komet akan senantiasa terlihat di tengah gemerlap cahaya senja atau fajar pagi, dan tentu dengan ketinggian yang rendah mendekati ufuk. Untuk itu, meski memiliki kecerlangan yang cukup tinggi, mengamati komet tidak semudah yang kita bayangkan.

Untuk dapat mengamatinya, pastikan langit sebelah barat anda bersih dari awan. Semakin banyak awan, semakin kecil peluang anda untuk dapat melihatnya. Selain masalah cuaca, pastikan juga anda memilih lokasi pengamatan yang memiliki pandangan luas ke arah barat hingga ufuk, tanpa gedung atau pepohonan yang tinggi sehingga bebas dari halangan pandangan apapun. Semakin rendah ufuk barat anda, semakin lama waktu yang anda dapatkan untuk mengamati komet. Selain itu, pilihlah lokasi pengamatan yang pada arah barat tidak terdapat daerah padat penduduk, karena polusi udara dan polusi cahaya yang dihasilkan akan sangat mengganggu pengamatan anda. Saya sarankan mengamatinya di pinggir pantai atau tanah lapang luas yang menghadap ke arah barat.

Citra simulasi program Starry Night yang menunjukkan posisi komet sejak tanggal 8 hingga 14 maret. Ukuran komet didramatisir dan efek atmosfer dihilangkan.

Persiapkan diri anda dan segala peralatan dan perlengkapan pengamatan seperti binokuler, teleskop dan kamera jauh sebelum matahari terbenam. Siapkan semuanya menghadap ke arah barat. Jika anda mengamatinya sebelum tanggal 10 maret, komet akan berada sekitar satu hingga dua derajat di sebelah selatan arah jalur terbenamnya matahari. Sementara pada tanggal 10 maret dan setelahnya, komet akan bergeser ke arah utara matahari, berturut-turut dari 1 hingga 2 derajat dan seterusnya. Seberapa tinggi ketinggian komet saat matahari terbenam sudah dijelaskan pada paragraf sebelumnya.

Gambar 7. Hasil Citra Komet yang berhasil diabadikan oleh Tim HAAJ dari Pantai Karnaval Ancol, pada 7 Maret 2013.
Jika anda ingin memotretnya, pastikan anda menggunakan lensa dengan panjang fokus di atas 100mm untuk dapat melihatnya secara signifikan di frame hasil foto anda, mengingat ukuran lebar komet ini cukup kecil. Mengenai seberapa cepat rana yang digunakan dan seberapa sensitif nilai ISO yang dipilih akan tergantung dari seberapa redup cahaya senja saat anda memotretnya. Semakin terang cahaya senja, semakin cepat rana yang digunakan dan semakin kecil nilai sensitifitas sensor yang dipilih. Sebaliknya, semakin redup cahaya senja, semakin rendah kerepatan rana yang digunakan dan semakin tinggi nilai sensitifitas sensor yang dipilih. Mengenai bukaan diafragma lensa, pilih saja yang paling lebar dan gunakan keuntungan itu untuk menurunkan nilai ISO seminimal mungkin demi mengurangi noise yang dapat menurunkan kualitas gambar. Gunakan kualitas gambar terbaik yang dimiliki kamera anda. Jika perlu, ambillah gambar dengan format RAW atau NEF agar dapat lebih leluasa saat mengolah hasil gambar.
Jika anda menggunakan lensa atau teleskop dengan panjang fokus di atas 300mm, dan dengan kecepatan rana dibawah 1/5 detik, sangat disarankan untuk menggunakan tripod dan motor penggerak dalam memotret, mengingat komet juga mengalami gerak semu harian. Jika tidak, hasil gambar anda akan sulit fokus dan terlihat memanjang (Shaking, Trailing).

Untuk pemotretan dengan teknik tinggi, anda dapat menggunakan lensa atau teleskop dengan panjang fokus diatas 600mm dan dilengkapi dengan motor penggerak. Jika bisa seperti itu, ambillah foto komet dengan jumlah yang banyak dalam posisi yang tidak berubah. Setelah itu, tutuplah lensa atau teleskop anda dan ulangi pengambilan gambar. Pada pengolahan gambar setelah sesi pemotretan selesai, gambar-gambar itu akan ditumpuk menjadi satu dengan menggunakan perangkat lunak dan akan menghasilkan gambar yang tajam dengan resolusi yang tinggi.

Selamat berburu..!

Himpunan Astronomi Amatir Jakarta akan mencoba melakukan pengamatan dan pemotretan Komet Panstarss pada puncak penampakannya pada 10,11 dan 12 Maret di Pantai Anyer, Banten.

ASTEROID SI PLANET KECIL - Edisi 3 -

Celah Kirkwood
Seperti telah disebutkan, kumpulan asteroid membentuk lintasan utama berarak-arakan mengedari Matahari dengan formasi mirip cincin Saturnus disebut Sabuk Asteroid antara 2,1 hingga 3,3 s.a (320 – 495 juta km). Sementara tahun 1866, astronom Amerika Serikat Daniel Kirkwood (1814 – 1895) menunjukkan bahwa pada daerah sabuk itu ada jalur yang tidak stabil (cenderung tidak ada benda mapan pada jalur tersebut, disebut Kirkwood Gap atau celah Kirkwood). Struktur ini mirip Cassini dan Encke Division pada cincin Saturnus (Kirkwood pula yang pertama mendata dan menganalisisnya, termasuk penemuan adanya Sun-grazing Comets atau Sun-Kreutz Grazers).

Setelah dilakukan perhitungan pada elemen orbitnya, diketahui bahwa hal ini terkait erat dengan fenomena resonansi padamana keberadaan planet gas raksasa Jupiter diduga sebagai penyebabnya. Jarak celah Kirkwood ini dari Matahari memiliki resonansi kesetaraan dengan ¼ (jarak: 2,06 s.a), 1/3 (2,5 s.a), 2/5 (2,82 s.a), 3/7 (2,96 s.a), 4/9 (3.03 s.a) dan ½ (3,28 s.a) periode edar Jupiter.

Fenomena resonansi yang dimaksud di sini semisal pada indikator ½  berlaku: sebuah asteroid dengan jarak 3,28 satuan astronomi memiliki periode edar ½ kali periode edar planet Jupiter. Atau asteroid sudah mengedari Matahari 2 kali, maka Jupiter baru 1 kali (½ →1 banding 2, kadang ditulis 1:2 atau 2/1 atau 2:1).

Pada angka ¼ terkait dengan daerah sekitar perbatasan-dalam pada jarak ke Matahari (± 320 juta km, tidak ditemukan asteroid). Sementara ½ adalah dekat perbatasan luar dari Sabuk Asteroid (± 491 juta km, juga tidak ditemukan). Yang juga tuna asteroid (tetap dijumpai asteroid) adalah yang terkait dengan angka 1/3 (374 juta km), 2/5 (422 juta km), 3/7 (433 juta km), dan 4/9 (3,03 s.a).

Sebenarnya ada lagi yang terkait dengan resonansi seperti di atas. Namun pada resonansi ini justru ditemukan asteroid, yaitu (kelompok/grup) asteroid 153 Hilda (3,97 s.a, resonansi 2/3, lainnya 334 Chicago dan 1256 Normannia), (kelompok) asteroid 279 Thule (4,29 s.a, resonansi 3/4), dan kelompok Trojan (5,2 s.a, sejarak planet Jupiter dengan resonansi 1/1). Jadi ada kelompok asteroid yang berada di jalur utama Sabuk Asteroid (tipe 1) padamana ditemukan celah Kirkwood yang tuna asteroid, dan satu lagi yang berada pada 3 jalur resonansi yang ditemukan konsentrasi asteroid (tipe 2). Sementara itu di luar 3 jalur ini praktis dapat dikatakan tidak dijumpai asteroid.

Banyak hipotesis menyangkut keunikan orbit asteroid yang terkait Celah Kirkwood tersebut. Ada 4 dugaan terkait dengan kondisi ini yang telah ditelusuri oleh R. Greenberg dan H. Scholl (tahun 1979), yaitu:
  1. Hipotesis Statistik.
    Sejatinya ada asteroid dalam celah. Namun mengalami gerak osilasi dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar celah. Layaknya bandul pada pendulum yang menghabiskan waktunya lebih banyak di luar posisi setimbangnya. Inilah akhirnya yang membuat pengamat tidak melihat keberadaan asteroid di celah tersebut. Namun, dari penelitian P.J. Message (1966), F. Schweizer (1969), dan W.E. Wiesel (1976) diperoleh bahwa hipotesis statistik ini kurang sahih dijadikan landasan untuk menjelaskan ketiadaan asteroid di celah.
  2. Hipotesis Gravitasi.
    Diduga dulu terdapat asteroid di celah. Akibat adanya gangguan gravitasi Jupiter sedemikian mereka tersingkir (teori gangguan). Hal ini dicoba penelusurannya oleh W.H. Jefferys, V.G. Szebehely, T. Kiang, S. Aoki tahun 1978 secara simultan. Hasilnya pun dianggap kurang memuaskan dalam menjelaskan adanya Celah Kirkwood di Sabuk Asteroid, dan pada kondisi sebaliknya terdapat 3 jalur resonansi yang justru berisi asteroid yang dipisahkan dengan daerah yang kosong (Hecuba gaps atau celah Hecuba).
  3. Hipotesis Tumbukan.
    Dalam hipotesis ini bahwa asteroid saling bertumbukan sedemikian terlempar dari jalur celah tersebut. Efek gangguan gravitasi Jupiter dapat jadi mengubah pola edar asteroid, sedemikian perubahan letak asteroid terjadi. Hal ini memungkinkan asteroid saling menumbuk satu sama lain. Belum lagi pola garis edar asteroid yang sedemikian banyak berbeda. Ada yang mendekati lintasan edar lingkaran, ada yang ellips. Ini pun dicoba ditelusuri, khususnya oleh W.H. Ip tahun 1977. Hasilnya malah sebaliknya, pekerjaan beliau menunjukkan hasil yang berlawanan dengan hipotesis ini. Termasuk hasil perhitungan para pelopornya. Asteroid yang cenderung lintasannya ellips justru memiliki kemungkinan terbesar dalam proses terjadinya tumbukan, sementara kondisi asteroid ini menjalani hidupnya di daerah luar sabuk utama padamana hanya sedikit sekali jumlah asteroid. Bandingkan dengan sabuk utama yang terisi begitu banyak asteroid, bahkan dapat dikatakan hampir semuanya terkonsentrasi di Sabuk Asteroid (terkecuali di Celah Kirkwood). Seharusnyalah daerah padat ini sering terjadi tumbukan asteroid.
  4. Hipotesis Kosmogoni.
    Hipotesis ini menunjukkan bahwa adanya Celah Kirkwood telah ada sejak lahirnya Tata Surya (planetesimal), bersamaan dengan rentetan terbentuknya Matahari, planet, satelit, dan lainnya. Dalam hal ini memang harus diakui bahwa landasan penelitian belum mencakup data observasi terhadap keseluruhan asteroid. Dari penelitian yang dilakukan Heppenheimer dan Greenberg (1978), memang dapat terbentuk daerah asteroid (Sabuk Asteroid). Adapun yang saat ini berada di luar jalur tersebut, dapat terbentuk di mana saja tergantung kondisi awal nebula (materi antar bintang) pembentuk Tata Surya, terpisah dari pembentukan asteroid di Sabuk Asteroid. Adapun Sabuk Asteroid yang terbentuk cenderung memiliki distribusi atau sebaran membentuk konfigurasi seperti cincin Saturnus, lebar namun tipis. Namun demikian, tetap tidak dapat terbentuk Celah Kirkwood ataupun 3 jalur seperti bahasan sebelumnya (kelompok Hilda, Thule, dan Trojan).
Hipotesis di atas masih terus diteliti para ahli hingga kini. Tentu dengan makin banyaknya data, peranti, dan perhitungan yang makin maju diharapkan makin terkuak cakrawala baru mengenai misteri celah. Memang persoalan seputar asteroid ini terus menerus mengusik, terlebih makin banyaknya asteroid yang punya lintasan orbit unik.

Keunikan Orbit
Hampir semua asteroid ada di sabuk asteroid, tapi banyak pula yang menyimpang. Hal ini karena eksentrisitasnya besar (lintasannya ellips yang sangat lonjong). Mereka ada yang mengembara sampai ke dekat Merkurius. Yang lintas dekat Bumi sering dijuluki EGA (Earth Grazer Asteroid). EGA termasuk kelompok NEO (Near Earth Objects). NEO pertama ditemukan tahun 1898, berupa asteroid yang bernama 433 Eros berdiameter 32 km. NEO pada dasarnya dapat berupa asteroid maupun komet.

Diprediksi ada lebih dari 600 ribu EGA, namun sebagian besar berdiameter kurang dari 40 m hingga sulit dilacak secara rinci. Sementara yang lebih dari 140 m ditaksir ada 50.000 (hingga Januari 2010). Dari yang telah didata elemen orbitnya (2013) ada 9626 buah asteroid padamana 1.269 > 1 km. Sementara itu 1.378 adalah Potentially Hazardous Asteroids atau PHAs yang dapat berkenalan dengan Bumi.

Pada EGA pun terdapat 3 tipe yang disebut gugus AAA (Apollo – Amor – Aten). Kelompok Aten bersifat memotong garis edar Bumi, kelompok Apollo bergaris edar tumpang tindih dengan Bumi. Sementara kelompok Amor sering mendekati Bumi dan memotong lintasan edar planet Mars.

Tahun 1932 asteroid 1862 Apollo mendekat Bumi sejarak 3,2 juta km. Tahun 1936 Adonis – 1,6 juta km, dan tahun 1937 Hermes lebih dekat lagi mencapai 780 ribu km. Hermes yang ditemukan oleh astronom Jeman Karl Reinmuth (1892 – 1979) saat ini dianggap menghilang. Saat pelacak makin maju, diketahui tanggal 18 Januari 1991, asteroid 1991BA melintas dekat sekitar 160.000 km, tanggal 20 Mei 1993 asteroid 1993KA2 memotong garis orbit Bumi sejarak 140.000 km, tanggal 15 Maret 1994 giliran asteroid 1993ES1, bahkan tanggal 9 Desember 1994 ada yang berjalan-jalan di antara Bumi – Bulan sejarak 104.000 km saja, yaitu 1994XM1. Atau seperti asteroid Toutatis yang pada bulan September 2004 mendekat sampai ±1.549.720 km. Uniknya bahwa penampakannya saat mereka mendekati kita (atau Matahari) dapat berujud seperti penjelajah kecil Tata Surya lainnya yaitu komet. Sementara tahun 2002, yaitu 2002MN berjalan-jalan sejarak 120.000 km dari Bumi. Lainnya adalah asteroid 2009UN3 yang mendekati Bumi tanggal 09 Februari 2010 hingga jarak 14,5 kali jarak Bumi – Bulan. Jaime Nomen, dkk. dari La Sagra Observatory – Spanyol bagian selatan menemukan asteroid 2012DA14 (diameter ±50 meter) yang mendekati Bumi hingga jarak lintas orbit geostationer (±36.000km) pada tanggal 15 Februari 2013 jam 19:25 UT. Lintasan di kubah langit sekitar 30 menit busur per menit. Atau lainnya adalah 99942 Apophis (2004MN4, diameter ±0,4 km, ditemukan 19 Juni 2004) yang diduga akan lintas-dekat dengan Bumi tanggal 13 April 2029 (rentang orbit geostasioner) dan tahun 2036 (dalam pemantauan, belum ada kesimpulannya).

Tipe lain adalah Asteroid Trojan yang bukan tergolong pengembara dan juga bukan EGA. Posisinya di lintas edar Jupiter, terjebak medan gravitasi Jupiter. Ada sekitar 700 di depan Jupiter (Grup Achilles); dan sekitar 400 di belakang Jupiter (Grup Patrocles). Formasi dan jarak masing-masing ke Jupiter tidak berubah walau Jupiter mengedari Matahari atau equilateral. Berlaku layaknya pengawal Jupiter (pen.: lihat bahasan khusus AT, edisi mendatang).

Kondisi ini dirumuskan secara matematis oleh Lagrange dari Perancis tahun 1772, sedemikian titik-titik konsentrasi seperti yang terjadi pada Asteroid Trojan disebut Titik Lagrange (Catatan: tiap planet punya Titik Lagrange-nya sendiri). Contohnya 588 Achilles. Kasus serupa adalah Mars Trojan Asteroid. Bahkan 2 satelitnya, Phobos (artinya ketakutan) dan Deimos (teror) diduga adalah asteroid yang terperangkap gravitasi Planet Merah tersebut (satelit tangkapan). Sekedar catatan, satelit lain yang diduga kuat sama dengan peristiwa tangkapan ini adalah satelitnya Jupiter, yaitu Ananke, Carme, Pasiphae, dan Sinope. Arah edar satelit ini berlawanan (retrograde) dengan gerak edar satelit lainnya juga berlawanan dengan arah rotasi Jupiter. Kasus sama pada Phoebe (Saturnus) dan Nereid (Neptunus).

Ada lagi yang unik yaitu 2060 Chiron (1977UB) yang ditemukan Kowal (18 Oktober 1977). Lintasannya antara Jupiter dan Uranus dengan perihelion 1,3 milyard km dan aphelionnya 2,8 milyard km. Periode edarnya 5/9 kali periode edar Uranus (50,7 tahun) dan berdiameter 180 km. Sampai kini statusnya masih diragukan. Apakah komet, asteroid, satelit Saturnus yang terlempar, atau benda baru di Tata Surya? Yang sejenis adalah 944 Hidalgo (pen.: lihat bahasan khusus Chiron, harap sabar di edisi 5).

Sekilas Data Keluarga Asteroid
(Data dari Minor Planet Center – dioperasikan oleh Smithsonian Astrophysical Observatory, di bawah koordinasi Division III of the International Astronomical Union atau IAU).


Beberapa contoh asteroid yang lintas dekat (NASA/NEO Program):

Object
Name
Close
Approach
Date
CA
Distance*
(AU)
Estimated
Diameter**
H
(mag)
Relative
Velocity
(km/s)
(2013 BV15)
 2013-Feb-13
0.0095
37 m - 82 m
24.3
8.21
(2012 DA14)
 2013-Feb-15
0.0002
40 m - 90 m
24.1
7.82
(2013 CE82)
 2013-Feb-17
0.0118
25 m - 55 m
25.2
13.17
(2007 EO88)
 2013-Mar-18
0.0114
14 m - 31 m
26.4
10.65
(2010 GM23)
 2013-Apr-13
0.0099
31 m - 69 m
24.7
13.14


Salam WS
Sampai ketemu lagi dengan asteroid 2012DA14 tanggal 16 Februari 2087 (prediksi jarak 2 kali lebih jauh. Catatan: tahun-tahun setelah 2013 lokasinya sangat jauh). Asteroid ini tergolong Keluarga Aten. (Oya, siapa yang berhasil ngamat? Ada rekamannya atau tidak tuh?).
Data terakhir (18 Februari 2013, jam 16.16 WIB), jumlah asteroid yang telah didata elemen orbitnya berjumlah 353.926. Jumlah yang telah diberi nama masih didata dulu, soalnya lompat2. Unik juga namanya, ada 274301 Wikipedia, 263251 Pandabear, 228029 Maniac, 221628 Hyatt, 202373 Ubuntu, 200069 Alastor, 188534 Mauna Kea, 204873 Fair, 291849 Orchestralondon (kalo orang Indonesia nemuin dan neliti namanya boleh jadi “500000 Gamelanjawa” .. hihi .. ayo HAAJ sky–patrol, kali2 aja .. 500000 HAAJ). Maaf baru sempet liat 1/3 bagian aja .. datanya bariiiis.
Untuk penghargaan ke Indonesia, maka nama dari beberapa kepala Observatorium Bosscha diabadikan untuk nama asteroid: 12176 Hidayat – 12177 Raharto – 12178 Dhani – 12179 Taufiq.  
   
Keterngan gambar
Distribusi sebaran asteroid (Alan Chamberlin, 2007, JPL/Caltech; melibatkan data dari 159.366 asteroid). Grup/Keluarga Utama yang tampak antara lain Hungaria, Flora, Sabuk Utama (3 zona), Cybele, Hilda, dan Trojan. Catatan: Mars pada posisi 1,52 AU dan 5.2 AU. Daerah stabil pada Trojan, Hungaria, Cybele. Sementara dianalisis bahwa Flora dan Hilda masing-masing sebenarnya berasal dari sebuah asteroid besar yang pecah. References: Gradie, J. C., Chapman, C. R., and Tedesco, E. F., 1989,  Distribution of Taxonomic Classes and the Compositional Structure of the Asteroid Belt, in Asteroids II (R. P. Binzel, T. Gehrels, and M. S. Matthews, Eds.), p.321, Univ. of Arizona Press, Tucson. Credit: JPL/Caltech/NASA. Catatan: tampak bahwa mendekati 1 AU (Bumi), ternyata banyak asteroid juga.
Keterngan gambar
Asteroid berdiameter 112 km ini difoto pada jarak sekitar 555 juta km dari Bumi. Tampak daerah C-shape coma dan ekor (partikel debu). Dari data tanggal 4 Januari 2011, daerah coma berkurang 30%. Partikel-partikel debu ini sebenarnya akibat tumbukan dengan asteroid lain. Asteroid ini mengorbit pada daerah luar Sabuk Asteroid, 3,1 satuan astronomi. Daerah cakupan foto mencapai diameter 214.000 km. Credit: NASA, ESA, D. Jewitt (UCLA), and M. Mutchler (STScI).
Keterngan gambar
Sebuah asteroid berdiameter sekitar 500 meter yang jatuh ke Jupiter. Pertama terekam oleh astronom amatir dari Australia tanggal 19 Juli 2009. Sibakannya mencapai daerah seluas Samudra Pacific, dengan daya ledak beberapa kali ledakan standard bom nuklir. Hal serupa pernah terjadi 15 tahun sebelumnya, yaitu jatuhnya 20-an fragmen komet SL9 secara berantai tanggal 17 – 23 Juli 1994 (diameter sibakannya lebih dari besar diameter Bumi). Diduga asteroid ini termasuk Keluarga Hilda (Agustin Sanchez-Lavega of the University of the Basque Country in Bilbao, Spain, dan koleganya). Keluarga asteroid ini sendiri terdiri tidak kurang dari 1.110 asteroid yang mengorbit dekat Jupiter. Kejadian ini bagi Heidi Hammel dari STScI/HST, “This event beautifully illustrates how amateur and professional astronomers can work together,". Dalam sejarah, noda hitam akibat tumbukan ini pernah terekam antara lain tahun 1686 oleh astronom Itali, Giovanni Cassini (seluas dampak SL9). Tahun 1834 astronom Inggris, George Airy (seluas 4 kali bayangan satelit Galileo di Jupiter).
Credit: NASA, ESA, H. Hammel (Space Science Institute, Boulder, Colo.), and the Jupiter Impact Team.
Keterngan gambar
Sebuah asteroid (Sabuk Utama) yang sifatnya mirip komet. Difoto dengan wide-field-camera (WFC 3) yang terpasang pada teleskop Hubble. Jaraknya saat itu berkisar 160 juta km dari Bumi. Credit:  NASA, ESA, and D. Jewitt (UCLA).


ASTEROID SI PLANET KECIL - Edisi 2 -

ASTEROID
SI PLANET KECIL
- Edisi 2 -
Sumber Gambar : http://astrosun2.astro.cornell.edu
Penamaan Asteroid
Awal penamaan yang berlaku sejak 1 Januari 1925 adalah berdasar urutan tanggal ditemukan dan diberi label tahun dan abjad. Misal antara 1 – 15 Januari 2006 dinamakan: 2006AA, 2006AB, ..., 2006AZ, 2006AA1, dst. Penemuan tanggal 16 – 31 Januari 2006: 2006BA, 2006BB, dst. Sampai pada tahun yang sama, tanggal 16 – 31 Desember diberi nama: 2006YA, 2006YB, dst. Awalnya J dan Z tidak digunakan, lalu kini hanya I yang tidak digunakan (pen.: maaf belum dapat alasannya). Setelah jelas identitasnya yang biasanya diteliti ulang setelah ditemukan lagi di jalur lintasan yang telah dihitung, baru diberi nama dengan angka tertentu. Misal Ceres diidentifikasi dengan 1 Ceres, Pallas ditulis 2 Pallas, dst. Tentang nama khusus, biasanya diberi nama feminin dan ditemukan dalam mitologi.
Dalam beberapa kasus tidak selalu diberi nama dengan cara demikian. Bahkan awalnya sempat membingungkan dalam mencapai kesepakatan ini, karena sang penemu terkadang mengusulkan nama sesuai dengan keinginannya yang terkait misalnya dengan nama pahlawan politiknya, temannya, bahkan nama binatang kesayangannya. Semisal asteroid 724 Hapag (akronim garis navigasi Hamburg-America-Paketfarht-Aktien-Gesellschaft), atau 694 Ekard (Ekard adalah ejaan terbalik dari Drake, diberikan oleh team dari Drake University). Tahun 1900, pusat data asteroid dikembangkan di Berlin dan Kiel.
Montage of nine views of Eros. Sumber : NSSDC Photo Gallery
Pemeriksaan ulang senantiasa dibutuhkan. Semisal tahun 1939 ditemukan 398 asteroid, namun 159 diantaranya menghilang sebelum datanya lengkap. Beberapa mungkin ditemukan lagi, namun dapat terjadi dengan identitas berbeda. Namun, beberapa diantaranya ternyata ditemukan kembali. Sejak saat itu, pendataan dilakukan serentak oleh team di Heidelberg, Leningrad, dan Berlin. Pendataan di Berlin dipindahkan ke Smithsonian Astrophysical Observatory di Cincinnati yang dipimpin oleh direkturnya, P. Herget. Hasil mereka dipublikasikan dalam katalog tahunan oleh Institute of Theoretical Astronomy – Leningrad dan sejak tahun 1978 bergabung dengan Minor Planet Center yang berkedudukan Cincinnati Observatory (Cambridge – Massachusetts), yang berada di bawah naungan International Astronomical Union (IAU).
Dengan tambahan data dari Observatorium McDonald (Yerkes-McDonald Survey dipelopori oleh Kuiper – yang terkenal dengan teori pembentukan Tata Surya.) dan dari Observatorium Mount Palomar yang bekerjasama dengan Leiden Observatory (katalognya disebut Palomar – Leiden Survey, atau dalam identifikasi asteroid dengan abjad P-L semisal 1812 Gilgamesh sama dengan 4645 P-L, atau 1813 Imhotep = 7589 P-L), tahun 1979 sudah 2.125 asteroid didata akurat dan dibuat katalognya. Sebanyak 80% ditaksir berdiameter lebih dari 1 km. Sementara taksiran dari data survey Observatorium McDonald dan Palomar-Leiden sampai tahun 1960 sudah sekitar 500.000 asteroid. Namun, tentu saja pekerjaan pendataan bukanlah hal yang mudah. Memang semakin relatif mudah menemukannya, namun identifikasi dalam data khususnya elemen orbitnya yang tidaklah sederhana.
Sejak 1978 di Minor Planet Center yang dipelopori Brian Marsden, setiap tahunnya berhasil mendata cermat rata-rata 100 asteroid. Sementara hasil pendataan ini diperlancar lagi dengan adanya team dari Crimean Astrophysical Observatory yang dapat melacak dan meneliti rata-rata 700 asteroid per tahun. Tahun 1990 yang sudah dimasukkan di katalog mencapai lebih dari 5.000 asteroid. Saat ini penelitian terhadap asteroid tidak hanya penelitian landas Bumi, melainkan telah menggunakan penelitian berbasis wahana antariksa seperti penggunaan Infrared Astronomical Satellite (IRAS), Hubble Space Telescope (HST), Galileo, Near Earth Asteroid Rendezvous (NEAR-Shoemaker, yang bahkan sudah mendarat di asteroid 433 Eros: 33 km; mengorbit 14 Februari 2000, mendarat 12 Februari 2001), dsb.

Daftar 10 Asteroid Terbesar:
2 Pallas (diameter 608 km, ditemukan tahun 1802), 4 Vesta (538 km, 1807), 10 Hygiea (450 km, 1849), 31 Euphrosyne (370 km, 1854), 704 Interamnia (350 km, 1910), 511 Davida (323 km, 1903), 65 Cybele (309 km, 1861), 52 Europa (289 km, 1858), 3 Juno (288 km, 1804), 87 Sylvia (282 km, 1866).

All asteroids and comets visited by spacecraft as of November 2010
Credits: Montage by Emily Lakdawalla. Ida, Dactyl, Braille, Annefrank, Gaspra, Borrelly: NASA / JPL / Ted Stryk. Steins: ESA / OSIRIS team. Eros: NASA / JHUAPL. Itokawa: ISAS / JAXA / Emily Lakdawalla. Mathilde: NASA / JHUAPL / Ted Stryk. Lutetia: ESA / OSIRIS team / Emily Lakdawalla. Halley: Russian Academy of Sciences / Ted Stryk. Tempel 1, Hartley 2: NASA / JPL / UMD. Wild 2: NASA / JPL.

Geometri Asteroid
Bentuk asteroid praktis tidak beraturan, termasuk permukaannya. Namun demikian secara unik ada juga yang berbentuk bola (sferis) semisal Ceres, Pallas, dan Vesta. Ada pula yang ellipsoidal dan sangat lonjong seperti 15 Eunomia, 107 Camilla, dan 511 Davida. Ada lagi keunikan bentuk seperti halter atau juga layaknya 2 asteroid menjadi satu seperti 4769 Castalia, 216 Kleopatra, dan 4179 Toutatis.
    Interaksi antar asteroid turut membentuk wajah asteroid itu sendiri. Contoh terakhir bulan Mei 2011 adalah tabrakan antara 596 Scheila dengan asteroid berdiameter 30,5 km yang direkam teleskop Hubble. Hujan meteor pun secara periodik dapat terkait dengan asteroid semisal Geminids Meteor Shower yang terkait dengan 3200 Phaeton yang ditemukan berlandas satelit infra merah IRAS tahun 1983. Diameternya hanya sekitar 5 km, dengan perihelion 0,140 s.a. (dalam orbit Merkurius) dan aphelion 2,403 s.a. (Sabuk Asteroid). Orbitnya ellips yang sangat lonjong (eksentrisitas 0,890). Sifatnya menyerupai komet. Proses fisik ini tentu mempengaruhi wajah asteroid. Bila unsurnya termasuk mudah terurai, maka interaksi dan proses seperti 3200 Phaeton akan semakin sering wajahnya berubah bahkan hancur.
Ukuran Asteroid. Sumber : NASA
Satelit
Bulan adalah satelit alam milik Bumi. Sistem planet dan satelit sudah diketahui. Tapi ternyata asteroid pun ada yang punya satelit. Sebagai contoh adalah:
243 Ida (satelitnya Baby Ida atau Dactyl, 1,6x1,4x1,2 km, 1993, ditemukan via satelit Galileo), 45 Eugenia (satelitnya Petit-Prince, 13 km, 1998, yang pertama ditemukan dengan teleskop landas Bumi), 87 Sylvia (Remus – 2001 dan Remulus – 2004). Lainnya seperti 532 Herculina, 3671 Dionysus (S/1997 (3671) 1), 762 Pulcova, 1996 FG3, 2000 DP107. Yang unik adalah 90 Antiope yang merupakan asteroid ganda yang pertama ditemukan, masing-masing 85 km dengan jarak 170 km dan periode orbit 16,5 jam, juga 1620 Geographos. Ataupun pada kasus ganda-kontak semisal 4769 Castalia dan 4179 Toutatis (lihat geometri asteroid).
Asteroid Ida dan Satelitnya "Dactyl". Sumber: NSSDC Photo Gallery
 Unsur Penyusun dan Klasifikasi   
Penelitian berbasis spektrum terhadap unsur asteroid telah dilakukan sejak dulu terlebih saat teknologi fotografi mulai diperkenalkan. Secara terpadu hal ini dilakukan sejak Bobrovnikoff tahun 1929. Pekerjaan ini (taxonomy) menghasilkan adanya klasifikasi asteroid dan sering disinkronkan berdasar keterkaitannya dengan meteorit.
Awal 1975, Clark R. Chapman (Planetary Science Institute – Amerika Serikat) memperkenalkan 2 tipe utama asteroid berdasar unsurnya. Pertama adalah tipe C (hampir semua asteroid di Sabuk Asteroid, contoh 10 Hygeia, 253 Mathilde). Hanya 3 hingga 9% saja cahaya Matahari yang diterima dipantulkan kembali (albedonya). Unsur utamanya karbon (carbonaceous chondrites), sangat gelap dan mengandung materi yang mudah menguap.
Perkembangan klasifikasi selanjutnya dalam kelompok C ini (lebih karena tingkat berkurangnya komposisi unsur air atau H2O, mirip C atau C-like material), yaitu tipe B (albedo 4 – 8%. Contoh: 2 Pallas, 379 Huenna – 62 km, 431 Nephele – 78 km), G (albedo 5 – 9%, Sifatnya berdaya serap tinggi terhadap radiasi ultraviolet.), dan F (albedo 3 – 7%, terkait kuat tidaknya interaksi dengan pancaran ultraviolet. Contoh: 44 Nysa dari keluarga Nysa-Polana, 135 Hertha, 142 Polana). Namun dalam kasus ini 44 Nysa biasa digolongkan sebagai tipe E, sementara 135 Hertha termasuk tipe M. Yang dekat klasifikasi ini adalah tipe P (albedo 2 – 6%) dan D (warna lebih merah) dan ditemukan di Sabuk Asteroid  bagian terjauh dari Matahari. Contoh tipe P adalah 87 Sylvia. Tipe D biasanya berwarna sangat merah dan albedonya rendah sekali 2 – 5% dan banyak dijumpai materi organik serta berusia setara dengan pembentukan Tata Surya. Hampir tidak ada di sabuk utama. Umumnya pada jarak 3,3 s.a. (di luar sabuk utama – di antara sabuk dan Jupiter). Contoh: Hektor (Asteroid Trojan), Phobos – Deimos (satelitnya planet Mars), dan meteorit Danau Targish.
Kedua adalah tipe S (silicaceous) dengan albedo 10 - 28% dengan warna agak kemerahan. Tersusun atas unsur silikat: stony-iron, campuran batuan – besi. Banyak dijumpai unsur olivine dan pyroxene (banyak pada basalt). Umum ditemui di bagian sabuk dalam Sabuk Asteroid. Makin jauh dari Matahari semakin sedikit. Contoh anggotanya 3 Juno, 6 Hebe, 7 Iris,  951 Gaspra, 243 Ida, 29 Amphitrite (219 km, termasuk keluarga Eunomia).
Selain 2 tipe utama di atas (±80% total asteroid), ada pula tipe A yang unsurnya mirip tipe S yang cenderung berwarna merah dengan albedo 13 – 35%. Banyak dijumpai olivine (Mg2SiO4 dan Fe2SiO4). Contoh: 246 Asporina (70 km) dan 446 Aeternotas (52 km).
Juga tipe M (metal) dengan albedo menengah, namun unsur yang dominan bahkan seluruhnya adalah murni logam (besi dan nikel). Sangat terang. Contohnya 16 Psyche (248 km), 55 Pandora, dan 92 Undina.
Juga ada tipe E (enstatite, tidak ada unsur besi; mirip tipe R, miskin unsur besi). Sifat albedonya besar, 53 – 63%, permukaan kemerahan namun intinya cerah/putih. Contoh tipe ini 3103 Eger (1982BB), juga keluarga Hungaria yang kebanyakan anggotanya tipe ini. Sangat jarang dijumpai. Materi seperti diketahui ketika tahun 1836 di Nyons Perancis jatuh meteor (Aubres meteorite). Oleh sebab itu biasa dikaitkan dengan meteorit tipe aubrite (enstatite achondrite yang miskin kalsium namun dominan silicate orthopyroxene enstatite). Eger diketahui sebagai satu-satunya Nearth-Earth Asteroid tipe E. Sementara itu ±10% asteroid memang tidak dapat dikelompokkan, disebut tipe U (Unclassified). Dalam kasus tertentu, ada yang menunjukkan ragam karakter dan digolongkan secara beragam pula. Semisal asteroid 4 Vesta yang dikategorikan tipe U. Atau cukup jelas, namun sulit dikategorikan semisal asteroid 210 Isabella yang diklasifikasikan sebagai CMEU.
Ragam tipe ini dapat dikaitkan dengan lokasi asteroid ke Matahari. Sabuk terdekat didominasi tipe E. Pada jarak 1/3 bagian sabuk utama, didominasi tipe S. Sementara 2/3 selebihnya didominasi tipe C dan ada kecenderungan bahwa makin jauh semakin dominan asteroid tipe ini. Asteroid Trojan pada umumnya tipe D. Sampai akhirnya timbul dugaan bahwa distribusi komposisi ini berkait dengan saat kondensasi materi pembentuk Tata Surya.
Terkait pula dengan unsur ini adalah bentuk asteroid yang sebagiannya praktis tidak beraturan (Faktor keras lunaknya bagian mantel juga interaksi antar asteroid itu sendiri). Berbeda dengan planet yang mirip bola. Bentuk mereka umumnya seperti kentang atau batuan raksasa yang ujudnya tidak teratur dan permukaannya mirip Bulan yang berkawah. Ragam wajah asteroid makin diketahui saat penelitian intensif dilakukan dengan wahana antariksa seperti Galileo yang diluncurkan Oktober 1989 dan berjumpa asteroid Gaspra Oktober 1991 dan Ida Agustus 1993; NEAR-Shoemaker, 1996 – 2002 dengan misi terakhir mendarat di asteroid Eros, Deep Space 1 (2001), dan Stardust (1999 – 2002). Teleskop angkasa Hubble pun masih terus membantu pelacakannya, dan salah satunya adalah kerjasama dengan wahana Swift milik NASA terhadap asteroid 596 Scheila (113 km, 2,9 – 3,1 s.a, periode 5). Asteroid ini bertabrakan pada bulan Mei 2011 dengan asteroid yang diperkirakan bergaristengah 30,5 meter. Dari analisis data, ditaksir sekitar 660.000 ton partikel kecil dan debu berhamburan karenanya. Kembali dalam masalah bentuk asteroid, nyatanya peristiwa tabrakan antar asteroid kerap terjadi. Ini pula yang menyebabkan wajahnya yang umumnya tidak beraturan atau penuh kawah.

Barringer Crater on Eart. Sumber: APOD
Yang menarik adalah meteor yang jatuh dan meledak pada hari Minggu pagi di atas Murchison, dekat Melbourne – 400 km utara Perth – Victoria, Australia, 28 September 1969. Analisisnya menghasilkan kesimpulan bahwa meteoroidnya adalah sebuah asteroid yang tergolong berasal dari sabuk utama. Tipenya C, ber-aroma layaknya methanol, yang mengindikasikan terbentuk dari materi organik (telaah Miller-Urey Experiment). Dari penelitian tersebut ditemukan 6 macam asam amino yang terkait dengan protein yang selama ini dikenal (glycine, alanine, valine, proline, aspartic acid, glutamic acid), namun 12 lainnya tidak pernah ditemukan di Bumi (alpha-amino-N-butyric acid, alpha-aminoisobutyric acid, norvaline, isovaline, pipecolid acid, beta-alanine, beta-amino-N-butyric acid, beta-aminoisobutyric acid, gamma-aminobutyric acid, sarcosine, N-ethylglysine, N-methylalanine). Tentu hal semacam ini jadi tantangan bagi para ahli astrobiology (pen.: bagi mahasiswa jurusan biologi dapat menjadi bahan penelitian). Hal ini mengingatkan pada meteorit yang dinyatakan dari Mars bahkan salah satunya yang disebut ALH84001 mengundang kontroversi tahun 1996. Meteorit ini ditaksir berusia 4 milyar tahun dan konon ditemukan struktur kristal yang diduga kuat adalah fosil bakteria. Mereka tergolong kelompok SNC (Shergottites-Nakhlites-Chassignites).
Pada tahun 1989, David Tholen (Amerika Serikat) dan Maria Barruci (Italia) mengusulkan  14 klasifikasi (taxonomy) asteroid, yaitu tipe A, B, C, D, E, F, G, M, P, Q, R, S, T, V. Hal ini dikaitkan bahwa kebanyakan meteorit berasal dari asteroid. Klasifikasinya dikaitkan dengan telaah klasifikasi meteorit pula. Namun demikian, klasifikasi Tholen-Barruci belum diterima secara luas hingga kini. Adapun penelitian tentang meteorit yang terkait asteroid, bahwa meteorit tipe batuan (stony meteorites – aerolit), 94% berunsur sangat sedikit logam dan terkait dengan asteroid batuan (stony asteroids) dan diperkirakan berasal dari bagian mantel asteroid tersebut. Bagian 5% lainnya adalah meteorit logam (iron meteorites – siderite) yang berasal dari inti asteroid, 1% lagi adalah stony-iron meteorites (siderolit/litosiderit).
Pekerjaan pengklasifikasian ini juga terbantu dengan adanya IRAS Minor Planet Survey Data Base yang bekerja sejak tahun 1983 (berlandas panjang gelombang infra merah). Lainnya seperti The Uppsala Asteroid Data Base (Uppsala Astronomical Observatory – Swedia; bersama Perancis, Ukraina, dan Italia), dll. Beberapa team yang menggunakan sistem pelacak otomatis diantaranya adalah (pen.: dapat lihat di Wikipedia):
•    The Lincoln Near-Earth Asteroid Research (LINEAR)
•    The Near-Earth Asteroid Tracking (NEAT)
•    Spacewatch
•    The Lowell Observatory Near-Earth-Object Search (LONEOS)
•    The Catalina Sky Survey (CSS)
•    The Campo Imperatore Near-Earth Objects Survey (CINEOS)
•    The Japanese Spaceguard Association
•    The Asiago-DLR Asteroid Survey (ADAS)
The LINEAR system hingga bulan Maret 2011 telah menemukan dan mendata 121,346 asteroid baru. Dari semua team di atas, berhasil ditemukan 4711 Near-Earth Asteroids padamana 600 asteroid berdiameter lebih dari 1 km. Semoga senantiasa kategori “near” saja sebagai pemeriah wajah langit malam, tidak sampai “touch down” berkenalan dengan kita semua.

Salam WS
Moga2 tulisan yang bersifat refreshing ini dapat membuat anda makin nyenyak untuk tidur .. Sip.
Oya, tidak terasa bagi yang kelas XII bentar lagi memasuki gelanggang ujian. Yaudah, .. Met belajar. Cari2 info tentang Perguruan Tinggi dari sekarang kalau anda ingin meneruskan studinya. Maaf kalau saya cuma bisa bantu doa aja ya.
Termasuk kelas X dan XI yang mau ikutan menyemarakkan olimpiade astro menuju OSN, kakak2 di FPA silakan digangguin .. hihi.

Popular Posts