ASTRONOMI - Sekilas Sezarah-Sejarah

Sejak ribuan tahun lalu seiring sejalan dengan jejak langkah peradaban manusia, sudah lahir banyak kisah seputar jagad semesta dengan segala isi dan fenomenanya. Ternyata bukan sekedar tinggalan cerita, namun disertai banyaknya peninggalan yang berupa ragam artifact. Hal ini dapat dilihat dari sejarah budaya Yunani/Romawi, Mesir, China, Maya/Aztec/Inca. Tentu saja dalam kasus ini dimulai dari budaya lisan turun temurun, dari generasi ke generasi selanjutnya. Dari pencatatan yang sistematis hingga banyaknya cerita rakyat. Sampai saatnya tiba pada generasi era sekarang ini dengan segala teknologi yang kita katakan maju. Yang menjadi perhatian salah satunya adalah budaya memetakan langit dengan pernik-pernik ceritanya serta tinggalan budayanya, termasuk dari ranah karya leluhur. Sezarah konsep karya dapat dilihat pada tinggalan “buku” pada Budaya Maya:
“All moons, all years, all days, all winds, reach their completion and pass away. So does all blood reach its place of quite, as it reaches its power and its throne. Measured was the time in which they could praise the splendour of the Trinity. Measured was the time in which they could know the Sun’s benevolence. Measured was the time in which the grid of the stars would look down upon them; and through it, keeping watch over their safety, the gods trapped within the stars would contemplate them.”
 (Nicholson, Irene, 1967, Mexican and Central American Mythology, Hamlyn, London, p.21)
Mungkin dalam usaha memahami karya termasuk juga bangunan seperti piramida atau candi, karya tulis semisal prosa dan puisi, tembang/lagu kaitannya dengan interpretasi khususnya untuk astronomi, di sini coba ditampilkan cuplikan syair tembang dari tanah leluhur pada masa awal lahirnya wayang kulit di Jawa Tengah (sekedar penggambaran betapa butuh waktu lama untuk sebuah kesimpulan bagi kita yang hidup beratus bahkan beribu tahun setelah sebuah kebudayaan mulai sirna, apalagi sebagai landasan ke”yakin”an untuk sebuah keputusan); in Serat Mijil that there is tembang:
“Irim-irim lintang lanjar ngirim, gubug penceng anjog,
wus manengah praune sang Raden, Jaka Belek maluku ing Kali,
lintang Bima Sekti, nitih kuda dhawuk”.
(Hadiwidjojo, K.G.P.H., 1978, Bedhaya Ketawang, Dep. P dan K, Jakarta)
Semua yang disebutkan adalah benda langit yang sangat akrab dengan kita di Indonesia.
- - - - - salam wr - - - - -
NB : Review materi untuk pertemuan rutin tanggal 27 Juni 2009
Pertemuan Rutin HAAJ tanggal 27 Juni 2009
Materi : Etno-Astronomi
Pembicara : Pak Widya Sawitar
Pukul 16.00 - 20.00

INFORMASI STAR PARTY II, 20-21 JUNI 2009

Diberitahukan pada seluruh peserta yang telah mengirimkan workplan, kami selaku panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Kuota yang tersedia telah terpenuhi, maka dari itu kami dari panitia menutup pendaftaran untuk Star Party II.

Bagi yang sudah mengirimkan workplan diharapkan untuk hadir tepat waktu pada hari Sabtu, 20 juni 2009 pukul 08.00 WIB di Planetarium & Observatorium Jakarta untuk pendaftaran ulang dan briefing kegiatan. Seluruh peserta akan berangkat menuju lokasi Star Party II pada pukul 10.00 WIB.

Kepada seluruh peserta, mengingat lokasi yang cukup dingin dan lembab diharapkan membawa pakaian hangat dan sebagainya. Selain itu diharapkan peserta membawa:

1. Peta langit
2. Senter kecil
3. ATK dan Papan Jalan
4. Perlengkapan Ibadah
5. Obat-obatan pribadi
6. Binokuler (bagi yang memiliki)

CP:
    Dmirza        : 085691514813
    Indra           : 08999345351

SEKILAS LUBANG HITAM - Edisi III: Karakter Lubang Hitam

Galaxy cluster MS0735.6+7421, 2.6 milyard tc arah Camelopardalis. Gabungan hasil Hubble, Chandra, VLA. Kabut gas-nya mencapai suhu 50 juta derajat; memancarkan sinar X yang sangat kuat. Dengan sumber pancar berdiameter > 640,000 tc (>6x diameter Bima Sakti). Juga pemancar gelombang radio yang kuat (warna merah) yang berhasil dideteksi dengan VLA telescope (New Mexico). Semua ini tidak lepas dari pemancaran partikel bermuatan yang keluar dari pusatnya yang diduga kuat adalah sebuah supermassive black hole dengan massa sekitar 1 milyard kali massa Matahari. Adapun massa keseluruhan gas yang ada mencapai 1 trilyun massa Matahari. Credit: NASA, ESA, CXC, STScI, and B. McNamara (University of Waterloo); NRAO, and L. Birzan and team (Ohio University).


Pada awalnya ketika Michell menganalisis dampak gravitasi Newton tercetuslah hasil yang mengindikasikan terbentuknya bintang yang cahayanya tidak sanggup lepas dari gravitasi bintang tersebut. Bintang ini disebut Dark Star atau Bintang Gelap (Newton sudah menganggap cahaya layaknya partikel yang disebut corpuscle, yang disanggah oleh Huygens - cahaya adalah gelombang). Saat lahir teori relativitas umum tentang gravitasi (konsep lengkung ruang-waktu) barulah masalah sifat cahaya dimengerti. Secara ringkas terhadap teori ini bahwa hadirnya medan gaya berat di alam ini sebagai akibat melengkungnya ruang-waktu. Namun Einstein sempat membantah ada bintang seperti bintangnya Michell/Laplace.


Bukti cahaya terbelokkan karena gravitasi terjadi saat Gerhana Matahari Total (1919). Lalu mengenai pergeseran titik perihelion Planet Merkurius serta adanya pergeseran merah gravitasi pada pola spektrum (beda dengan pergeseran merah Doppler dalam pengembangan alam semestanya Hubble). Contoh lain, adanya selisih tibanya sinyal dari wahana Viking serta perhitungan terhadap posisi satelit di orbit Bumi.


Selang beberapa bulan dari perumusan Einstein, Schwarzschild berhasil menyelesaikan satu dari dampak teori tersebut yang melahirkan istilah Magic Circle yang kini dikenal sebagai Radius Schwarzschlid sebagai penghargaan kepadanya (r ~ 2GM/c2). Lazim pula disebut Event Horizon yang dianggap radius Lubang Hitam.


Dapat dibayangkan suatu materi yang sangat mampat, gravitasinya luar biasa besar sedemikian cahaya pun tidak sanggup untuk melepaskan diri. Sementara kalau kita bandingkan dengan di Bumi sebagai contoh. Kecepatan lepas (kecepatan yang dibutuhkan untuk bisa lepas dari gravitasi) di Bumi hanya 11,2 km/s; sementara cahaya kecepatannya sekitar 300.000 km/s. Kalau cahaya saja tidak bisa lepas, bagaimana dengan materi lain dan bagaimana cara mengetahui adanya benda tersebut ? Ternyata, benda ini bisa dideteksi dari dampak yang timbul disekitarnya.


Pada perkembangan selanjutnya, penelitian benda langit ini semakin intens. Beragam teori berhasil dipecahkan dan ternyata dampaknya luar biasa. Lubang Hitam nyatanya bukan sekedar dari hasil ledakan bintang. Benda ini bahkan telah ada sejak awal pembentukan alam semesta (Primordial Black Hole yang ukurannya kecil, 10–13 seukuran proton/neutron) sedemikian diprediksi banyak sekali jumlahnya tersebar di seluruh jagad. Bahkan ada dugaan kuat bahwa di pusat galaksi Bima Sakti sendiri terdapat Lubang Hitam, termasuk banyak galaksi lain. Belum lagi konsekuensi terhadap kehadiran alam semesta sendiri yang diyakini berasal dari satu dentuman besar yang kini teorinya dikenal sebagai Big Bang; yang pada saatnya nanti akan terjadi fenomena sebaliknya – Big Crunch. Memang lebih mudah mendeteksi Lubang Hitam bila berada dalam sistem bintang ganda dan kebetulan sebagian besar bintang-bintang yang ada adalah sistem bintang ganda atau sistem bintang jamak (Contoh : Alpha Centauri).


Bagaimana sifat Lubang Hitam ? Nama awal beragam, Dark Star, Frozen Star, Collapsed Star, yang akhirnya disebut Black Hole. Masalah hitam dimaklumi sebab tidak ada berkas cahaya pun sampai ke pengamat. Namun istilah lubang, ini berdasar pandangan geometri dari teori relativitas umum yang meramalkan keberadaannya. Ruang-waktu benda langit ini sedemikian melengkung, jadi seolah berada dalam lubang khayal yang sangat dalam. Sekarang bagaimana kelakuan materi atau cahaya di dalam Lubang Hitam ? Semuanya masih terus diteliti. Secara ujud, pada daerah sekitarnya ada yang tidak terpengaruh kelengkungan ruang-waktunya. Makin dekat tentu akhirnya akan tersedot kedalamnya. Seandainya saja kita mendekati daerah event horizon mungkin kita ditarik sedemikian rupa menjadi mirip bakmi. Bila sudah masuk melewati radius Schwarzschild, tidak bisa keluar lagi. Bila anda ke sana mengirim sinyal (di luar event horizon) maka sinyal ke dua (sudah didalamnya) dalam selang 1 detik kemudian, rekan anda di Bumi sampai kapan pun tidak akan menerima sinyal anda.


Kerapatan Lubang Hitam tentu luar biasa besar. Katakan semisal Matahari dapat menjadi Lubang Hitam, maka kerapatannya ~ 20 milyar ton/cm3. Bagaimana dipusatnya? Tentu tak terbayangkan bila kerapatannya menuju tak hingga, sementara ruangnya sedemikian kecil menuju titik (0-D). Inilah yang biasa dikenal sebagai Titik Singularitas (Penrose, 1965) – virtually no space, sebenarnya tidak ada ruang, Out of existence. Di sini, penulis lebih suka mengatakan: “there is something rather than nothing,” yang kalau kita bandingkan kondisinya mirip dengan kondisi pada cerita wayang Manikmaya (1703) tentang “Creation of the Universe” yaitu kondisi “awang uwung”.


Salam w-dms

Sabar ya tuk bgn akhir tulisan ini, kejar tayang tuk byr utang nih .. wuih.


Oya, SELAMAT tuk yang lolos UN & yg dah duluan dpt tempat sesuai harapan di Perg. Tinggi. Bagi yg kebetulan tdk lolos, jadikan itu sbg langkah awal anda berjalan.


Jg tuk warga HAAJ!! Untuk SP-2 tanggal 20-21 Juni 2009: bagi panitia jgn lupa koordinasi dgn Mas “dm”T. ksh ke “senior” tuk menerima Mas “dm” sbg komandan (Kak Rfm raib ke mana?). Deadline tuk workplan s.d Kamis jam 17:00 & secptnya diolah. Aturan/syarat ikut bagi anggota dan kegiatan, liat punya Adly (bakal buat repot panitia nih, baguuus .. hihi) & Gwyn (kalo ini, w-dms berkata : .. ufzZ .. kerlap kerlip cahaya bintang hanya indah dalam “kegelapan”, dan ini sesuai dengan harapan workplannya Annisa Sirius. Dah, .. banyak doa saja Nis. Jadi kesimpulannya .. ¿¿). Sip.

Pertemuan Rutin Dwimingguan - 06 Juni 2009

-----------------------INFORMASI--------------------------

Pertemuan Rutin Dwimingguan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) edisi ke-10.

Judul Materi : Riwayat Hidup Bintang (The Life Cycle of Star)
Narasumber : Fathia Rahmi Syahroni, dari Himpunan Asronomi Amatir Jakarta
Waktu : Sabtu, 06 Juni 2009, mulai pukul 16.30 s.d 20.00 WIB.
Tempat : Gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta, Lantai dua. Jln. Cikini Raya no: 73. Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat.

Catatan:
  • Bagi yang berminat, silahkan langsung datang ke lokasi dengan waktu yang disebutkan.
  • Jika langit memungkinkan, setelah pertemuan akan diadakan peneropongan benda langit dengan menggunakan teleskop astronomi.
  • Untuk peserta Talkshow Astro Party 2009, Sertifikatnya dapat diambil pada pertemuan tersebut.
Terima Kasih
Penanggung Jawab Pertemuan Rutin
Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
M. Rayhan

Popular Posts