WAWARGITA ING GITA PARI - Serpihan Catatan Perjalanan, Hadiah Untuk Seorang Sahabat Muda

Kami ber-40, team HAAJ dan FOSCA (didalamnya terkandung perwakilan dari Planetarium, FPA – Forum Pelajar Astronomi, LIPI dan FORGUR – forum guru – Astronomi) berangkat ke lokasi yang menjadi idaman kami, yaitu P. Pari di Kepulauan Seribu. Jujur pada awalnya bahwa yang terlintas di benak saat “akhirnya memutuskan” untuk ikut adalah sekedar jadi pendamping atau bahkan penggembira .. ufz. Mencoba sekedar “melihat” seorang sahabat muda Sang Wawargita dalam berkiprah sebagai sokoguru kegiatan. Bagaimanapun sebagai koordinator keamatiran di IYA2009, saya butuh bahan yang secara ujud dapat dituangkan dalam berkas laporan – tidak lebih, di tengah kondisi fisik yang memang sedang tidak menguntungkan. Berangkat dengan kondisi letih selepas 2 hari sebelumnya harus jadi komandan sekaligus pelaksana kegiatan konser FRIDAY – live at Planetarium.


Seperti biasa, memilih operasi semut – berangkat bersama kelompok 3, gelombang terakhir ke pelabuhan Rawasaban. Acara perjalanan Sabtu pagi ini menjadi hiburan tersendiri dengan suasana keceriaan yang sangat. Cuaca cerah dan jalanan yang relatif lenggang membuat perjalanan yang lumayan buat gerah menjadi tidak terasa. Saat di kapal pun memilih duduk di atap kapal bersama Nurdin, Bayu, dan Ronny. Belajar “menangkap” laut yang begitu tenang dan indah.


Laut tidak selalu tenang,

Tiap insan punya pantai tuk pergi dan mendarat.

Lautan hikmah siap menjadi hidangan batin,

dan sezarah saja kasih-Nya,

sudah cukup tuk mengarungi gelora badai sedahsyat apapun.


Setiba di dermaga Pari, langsung berkemas ke wisma LIPI dan berbagi ruangan serta makan siang. Letih di wajah masih tampak jelas tuk semua peserta. Setelah briefing singkat tentang kegiatan, dimulailah pengelanaan spirit yang lahir dari pantai yang begitu landai. Tawa canda menjadi peleburan kekakuan di antara para peserta. “Play and Meditation” saya gunakan dalam arsip foto tuk moment ini. Susah melukiskan ekspresi dari semua peserta yang begitu spontan di tengah debur dan buaian ombak; diseling lempar-lemparan pasir dan terbalik-baliknya kapal karet serta hamparan kerang dan bintang laut yang menjadi ketakjuban tersendiri; juga sekelompok “makhluk aneh” dengan formasi lingkaran seolah saling berjabat tangan di tengah laut. Biarlah ini menjadi impresi yang tertanam–dalam di lubuk batin mereka. Takkala sore menjelang, maka berpindahlah para petualang spirit ini ke ujung dermaga LIPI, asa ‘kan fenomena terbenamnya Matahari menjadi catatan khusus secara personal.


Sekelompok makhluk aneh membuat sebuah formasi lingkaran.


Di malam hari, kesibukan astronomi pun mulai terasa. Sempat bingung, karena semua obyek langit indah adanya – jadi yang mana yang hendak dilihat? Dengan mata bugil pun, beberapa peserta sudah langsung mengenali daerah langit yang mustahil dilihat di langit malam kota Jakarta. Sebut saja jalur Bima Sakti, obyek Messier M6 dan M7, selintas daerah M8 dan M20 di Sagittarius, tak ketinggalan Jupiter yang begitu gagah di puncak langit malam Pulau Pari. Awan pun sempat melintas lewat tengah malam, ketukan di pintu sekitar jam 3-an dinihari membangunkan tidur yang baru ½ jam berjalan. Wajah kuyu memelas para peserta tampak tegas, “Mendung kak, gimana ambil datanya?” pun terpaksa dijawab, “Ya sudah, kalian tidur saja. Kalau sempat nanti Subuh siap kembali.” Beruntunglah Subuh mereka siap dan demikian pula wajah langit yang bersedia tuk disimak tuntas. Ketakjuban dan keriangan demi keriangan terjalin sepanjang malam.


Minggu pagi pun datang dan sedemikian ceria suasananya, baik para penghuni maupun alam sekitarnya. Pengembaraan spirit pun berlangsung apik di tengah laut yang menghampar di sekitar. Lebih susah lagi tuk menggambarkan betapa semua menjadi sangat amat personal. Susah tuk berkata dalam moment seperti ini. Hanya keharuan tersembunyi yang terentang tak putus sepanjang perjalanan. Inipun membuat para peserta ingin terus bertahan bahkan sampai harus diperingati untuk segera pulang sebelum pasang laut tiba.


Para peserta menyebrangi pantai menuju Pulau Pari Kudus.


Moment istirahat dan diskusi kelompok, memberi kesempatan ruang-waktu bagi saya tuk mengembara dari satu sudut ke sudut yang lain. Betapa celotehan ilmiah berseling gelak canda membuat kebanggaan tak terbendung seiring buaian nyanyian debur ombak dan bisikan lirih angin semilir di pantai yang begitu nyaman. Justru akhirnya membuat ujud fisik menepi menjauh ke arah paling ujung dermaga LIPI. Satu jam menikmati kesendirian, menantikan Sang Surya berjalan menuju ke peraduannya terakhir di hari itu. Tiada satu pun insan di sekitar, hanya berteman suara debur ombak dan angin yang cukup deras menerpa. Betapa ingin semua angin itu tertangkap di telapak tangan dalam tarikan nafas yang semakin teratur. Melepas segala beban, bersahabat dengan lentingan air di tepi dermaga yang tak kenal lelah terus menari di sekitar tempat bersila. Inikah akhir perjalanan? Teringatlah kepada seorang sahabat muda yang juga lekat di hati – Sang Perunggu ketika adzan Maghrib berkumandang dan bersiap kembali ke keramaian Science Camp. Sahabat muda ini pula yang menemani jam demi jam selama pengembaraan ini via sms demi sms,


I hope, until my last ammunition.

Not a promise physically, but I will do with my deepest innerheart, indeed.

Bila kesunyian malam dapat diajak menari dan bernyanyi,

kumohon pada-Nya,

agar itu senantiasa dapat menjadi pelipur laraku,

dan jawaban ‘kan segala kerinduanku.


Rasanya tidak percaya kalau telapak kaki sudah berada di Planetarium lagi. Deburan & terpaan ombak yang terus menggoda di sekujur badan seolah masih terus memanggil, semilir angin beraroma asin pun tak luput terus mendekap erat. Bahkan riuh rendah peserta sejak rapat persiapan, malam sebelum keberangkatan hingga satu per satu meninggalkan Planetarium tuk kembali pulang ke rumah masing-masing masih terasa bergaung hingga kini di ruang kerja (24 Agustus .. wuih). Ungkapan keriangan yang kadang membuat ledakan tawa, bahkan saling ledek dalam simpul persahabatan pun menjadi adonan kecerian yang menjadikan kegiatan ini terasa menjadi istimewa. Science Camp yang telah berbulan menjadi satu rencana yang sering tertunda akhirnya justru harus tersudahi. Kegiatan yang bernuansa persahabatan ini – yang dilaksanakan di Pulau Pari Kepulauan Seribu tanggal 15 – 17 Agustus 2009 memang sudah berlalu, namun kesan mendalam saya yakin akan dinikmati oleh seluruh peserta. Baik sejak persiapan, keberangkatan, pelaksanaan lapangan, hingga betapa berat berpisah saat tahapan pulang harus dilalui.


Jujur sekali lagi, rasanya tidak percaya bahwa semua itu sudah berakhir. Gumaman saat GMC di Anyer tgl 26 Januari 2009 yang terlontar di tengah lapangan di akhir acara pun spontan terdengar kembali dengan lirih, “tidak ada pesta yang tidak berakhir”. Harumnya pertemanan yang menjelma menjadi arena persahabatan yang berharap terbawa hingga akhir usia. Rasanya hasil karya ilmiah yang menjadi target kegiatan, ‘kan menjadi visi entah urutan yang ke berapa dibandingkan dengan tali batin dan kasih sayang persahabatan yang muncul di setiap moment yang bergulir. Tiap tarikan nafas para peserta terasa menjadi senyum yang begitu tulus, tiap jejak langkah adalah harapan ‘kan hadirnya empati kasih sayang tuk kondisi apapun, detak jantung di malam yang sunyi pun senantiasa terejawantah dalam doa yang tak putus.


WAWARGITA ING GITA PARI


Sebuah hadiah istimewa menjelang bulan Ramadhan, dan betapa saya menjadi merasa kecil dihadapan mereka para peserta SC2009. Semua yang telah saya beri ke mereka, hilang tergilas habis oleh pemberian mereka kepada saya selama mendampingi kegiatan ini. Khususnya seorang sahabat muda Sang Wawargita, sokoguru kegiatan SC2009. Sekedar sejumput perenungan di acara yang mengharu biru – oleh2 dari ujung dermaga LIPI dan kembali mengingatkan hadirnya sahabat muda lain di GMC2009. Nun jauh dari kebisingan hiruk pikuk kota. Dari persiapan kegiatan hingga akhir pelaksanaannya, ibarat menghadapi sebuah hadiah ulang tahun yang masih terbungkus rapi, penuh dengan indahnya harapan yang akan melahirkan kejutan saat dibuka. Semoga “hadiah” ini membawa berkah setelahnya. Apapun yang terjadi, perpisahan tidak dapat dihindari. Tentu berharap pada fenomena astronomi berikutnya, itupun kalau uluran usia masih menjadi anugrah dari-Nya. Rasanya untaian kata menjadi tidak lagi bermakna, namun nyatanya hanya bait ini yang dapat saya beri sebagai balasan kepada sang sahabat muda yang banyak memberikan pelajaran berharga bagi sang peronda yang semakin rapuh ini.


Desir semilir angin begitu lirih.

Hanya kesunyian hati kuraih.

Bintang gemintang pun enggan menyapa.

Kemana lagi kerinduan ini kuletakkan wahai Pertapa.

Tengadah tangan terbuai di depan dada.

Trasa makin kabur dalam pandang mata sang peronda.

Tiada sadar kutangkup tangan.

Membasuh wajah dalam linangan.

Wahai Sang Pertapa,

Biarkanlah aku senantiasa haus dahaga laksana sang Peziarah.

Demi meraih Melati sukmaku dalam laut kerinduanku

yang makin terperah jengah.


- - - - -

Ucapan selamat untuk ketua FOSCA yang baru .. ufz .. pasti makin sibuk deh. Tapi jangan khawatir, yang ndukung lebih dari 10 batalyon siap tempur.

Untuk ketua FOSCA lama, masih terus ditunggu kiprahnya. Ditunggu papernya (extended paper dari hasil LPIR2009) di seminar HAI 29-31 Oktober di Observatorium Bosscha. Deadline judul tanggal 1 September ini. Termasuk paper tentang FOSCA, kerja bareng ketua baru. ya Saya rekomendasikan untuk presentasi (jadi buat makalah, bukan paper poster). Sip.

Untuk FPA, secepatnya raih mimpi kalian semua.

Untuk Sang Perunggu, semoga cepet sembuh. Jangan kukur2 sembarangan.

Untuk HAAJ, siap2 tuk tanggal 5 September. Oya, siapkan pameran dan paper tuk HAI.


salam - WfG

Jakarta – Senin – 24 Agustus 2009 – 01:15

Pertemuan Rutin Dwimingguan - 22 Agustus 2009

Pertemuan Rutin Dwimingguan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) tanggal 22 Agustus 2009 serta buka puasa bersama di awal Ramadhan.

Judul Materi : Hisab Rukyat
Narasumber : Ustadz Rojalih dari Pesantren An-Nida Bekasi
Waktu : Sabtu, 22 Agustus 2009, mulai pukul 16.30 s.d. 20.00 WIB.
Tempat : Gedung Planetarium dan Observatorium Jakarta, Lantai dua. Jln. Cikini Raya no.73 Taman Ismail Marzuki, Menteng, Jakarta Pusat.


Catatan:
* Bagi yang berminat, silahkan langsung datang ke lokasi dengan waktu yang telah disebutkan.
* Jika langit memungkinkan, setelah pertemuan akan diadakan peneropongan benda langit dengan menggunakan teleskop astronomi.

Terima Kasih

Pertemuan Rutin Terunik

Pertemuan HAAJ kali ini tidak biasa, kenapa? Karena ada yang curhat, dengan peserta yang sedikit tidak menyurutkan diskusi yang terjadi. Diskusi sederhana, mulai dari diskusi tentang astronomi hingga tentang bagaimana beberapa anggota bergabung dengan HAAJ. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena ternyata narasumber untuk pertemuan HAAJ yang ditunggu-tunggu ternyata tidak dapat hadir. Ada beberapa peserta yang frustasi terlebih dahulu, hingga akhirnya ia memutuskan kembali pulang. Ada juga yang tetap bertahan, walaupun tidak lama. Dan ada juga yang bertahan untuk tetap mempelajari astronomi walaupun tidak banyak.
Beberapa kisah singkat diantaranya seperti dibawah ini, yang dituturkan oleh empat orang:

Ternyata majalah iptek anak yang Mirza baca ketika sekolah, membawa Mirza datang ke HAAJ, setelah bertahun-tahun. Datang pertama kali ke HAAJ mencari Tia, karena kebetulan adik Mirza menyukai novel Tia “Jadian 6 bulan”. Mirza yang bergabung dengan HAAJ sejak SMA kelas 3 mempunyai kesan pertama adalah bertemu orang-orang yang seminat lebih dari satu orang. Anggota HAAJ yang pertama kali dikenal adalah Dias. Awal Mirza menyukai astronomi sejak melihat gambar-gambar tentang obyek langit di buku pelajaran SD.

Roni senang dengan astronomi sejak kecil, kenal pertama kali tahu tentang HAAJ dari koran Kompas yang memuat tentang komunitas Langit Selatan. Setelah mengetahui ternyata komunitas ini berada di Bandung. Namun dari blog Langit Selatan ini, kemudian ia menemukan link menuju HAAJ. Pertama kali masuk ke blog HAAJ, lalu ia bertanya via email, dengan mengirim 5 pertanyaan, setelah 3 bulan perjuangan baru mengetahui bahwa HAAJ berada di planetarium di TIM. Ia datang pertamakali ke planetarium ternyata sudah tutup. Sebelumnya ia belum pernah sekalipun datang ke TIM Planetarium. Ia menunggu selama 4 bulan untuk datang pertemuan di tahun 2008. Pada tanggal 26 Januari 2008 akhirnya Roni dengan rute jalan yang baru datang ke HAAJ sendirian. Melihat planetarium yang tutup agak ciutkan nyalinya, ia agak kebingungan untuk mencari tahu jalan masuk ke planetarium. Setelah menunggu hampir setengah jam dan mengekor peserta yang akan mengikuti HAAJ, serta bertanya kepada petugas keamanan akhirnya Roni pun mengikuti pertemuan. Pertama kali bertemu dengan mba Winda. Roni menyukai astronomi karena keunikannya, kerumitannya, dan bisa menjadi berbagai ilmu jika dicabang-cabangkan.
Ada lagi kisah lain Vina yang baru bergabung dengan HAAJ sejak Maret 2009, Vina suka astronomi sejak SD, sejak pertama kali datang ke planetarium bersama dengan sekolah. Tetapi berhubung dia tidak mengetahui wadah yang dapat mengembangkan pengetahuan astronominya maka selama beberapa tahun dia mengurungkan diri dari belajar astronomi.
Kemudian pada suatu hari dia & teman-teman kampusnya pergi ke TIM untuk menonton suatu pertunjukan Teater di Teater Kecil dan akhirnya dia baru menyadari kalau planetarium berada di TIM. Akhirnya besoknya dia kembali lagi untuk menonton pertunjukan di Planetarium tapi ternyata tutup karena ada perbaikan proyektor. Kemudian besoknya ia kembali lagi untuk menanyakan mengenai club astronomy di Jakarta kepada Security dan security menjawab ya ya ya ya ya dan menyuruh kembali besok untuk bertemu dengan pak Widya. Kemudian ia mendapatkan info tentang pertemuan HAAJ.

Lain lagi cerita Fikri, menyukai astronomi sejak kelas 3 SMP, Untuk mencari planetarium ia sempat tersesat ke Taman Mini, tepatnya di PPIPTEK. Seminggu kemudian ia mencari di internet. Fikri yang baru bergabung sejak 6 juni 2009, mengetahui HAAJ dari “mbah google”. Ia menyukai astronomi karena suka melihat bintang di langit. Fikri berjalan kaki selama 30 menit untuk mencari Planetarium, sampai akhirnya ia mengikuti pertemuan perdana HAAJ nya.

Ternyata banyak jalan menuju HAAJ, kesukaan terhadap melihat langit sejak kecil membawa beberapa orang tertarik dan tertantang untuk melihat langit jauh lebih dalam.

Penulis : Febri
Izin Cerita :
1. Dmirza Pahlavi Al Amamu
2. Roni
3. Vina Rieza Rahmawati
4. Fikri

SEKILAS LUBANG HITAM Edisi IV: Perjalanan Penelitian


The Violent Lives of Galaxies Caught in the Cosmic Dark Matter.
A massive supercluster of hundreds of galaxies Abell 901/902 and the outer parts of the clusters are where star formation in the galaxies is slowly switching off and where the supermassive black holes at the hearts of the galaxies are most active.
Abell 901/902 berjarak 2.6 milyard tahun cahaya dan diameternya sekitar 16 juta tahun cahaya dengan massa total sekitar 100 trilyun massa Matahari. (HST/NASA - Space Telescope Science Institute, University of Nottingham – United Kingdom, University of British Columbia – Vancouver/Canada, University of Oxford, University of Texas – Austin)

Perkembangan penelitian selanjutnya dari obyek eksotik ini bahwa ternyata melahirkan teori keberadaan Lubang Hitam yang bersifat ideal (simetri – statik) seperti Lubang Hitam Schwarzschild, ada pula yang bersifat rotasi-spin yang dikenal sebagai Lubang Hitam Kerr, dimana dari salah satu perhitungannya dapat saja tercipta Cincin Singularitas. Selain itu ada pula yang dikategorikan sebagai Charged Black Hole yang dikembangkan oleh Reissner-Nordstrom. Uniknya, sifat Lubang Hitam ternyata ditentukan hanya oleh 3 parameter yaitu massa, spin (momentum sudut), dan muatan listrik (electric charge). Dalam hal inilah Wheleer mengatakan “Black Holes have no hair”. Bahwa gravitasi seperti demikian “shave the hair – off other property” – tidak bergantung pada bentuk awal, komposisi kimia, apa terbentuk dari materi atau antimateri dan sifat lain selain yang disebutkan di atas. Penrose pada tahun 1965 mencoba melihat singularitas ini lebih dalam lagi. Namun, ada pula yang menganggap titik singularitas tidak mungkin terbentuk.

Namun Penrose sendiri menyatakan, tidak mungkin tercipta titik singularitas yang telanjang tanpa ada event horizon. Memang kalau seandainya saja ada, maka hal ini tampak bila kerapatan tak hingga dimana yang terjadi adalah tidak ada lagi hukum fisika yang berlaku dan semua fenomena adalah mungkin. Dapat dikatakan lepas dari alam semesta kita. Di sana bisa terjadi proses spontan (mekanika kuantum) di mana tidak ada yang bisa meramalkan apa yang terjadi. Kita ingat Lubang Hitam-nya Reissner-Nordstrom, kita bisa terlempar ke jagad lain. Analisis lainnya, dalam kondisi tertentu akan terbentuk Wormhole (Kip Thorne menghitung secara matematis kasus ini yang lalu dijadikan dasar pembuatan novel oleh Carl Sagan berjudul Contact, lalu di-film-kan dengan bintang filmnya Jodie Foster) dimana kita bisa memperpendek waktu tempuh dalam melakukan tamasya di jagad raya. Seandainya bisa menembus titik singularitas, akankah kita memasuki Negative Universe dimana yang bekerja justru antigravity ? Mungkinkah di seberang sana malah tercipta White Hole ? Atau setelah era singularitas tercapai, bisa saja terlahir jagad baru (recycled). Hawking yang meneliti rumusan matematis Bekenstein-Zeldovich-Starobinsky menyimpulkan (1973) Lubang Hitam pun memancarkan partikel (Hawking Radiation yang akhirnya melahirkan cabang ilmu Quantum-Gravity, paduan mekanika kuantum dan teori relativitas umum). Kendati butuh rentang waktu yang sukar dibayangkan. Sebagai contoh, Lubang Hitam bermassa beberapa kali massa Matahari, akan habis setelah 1066 tahun. Namun, makin kecil massa - rentang waktunya makin pendek. Untuk 109 ton (primordial) hanya 15 x 109 tahun – yang mengindikasikan seorde dengan usia alam semesta. Dalam analisis ini, Lubang Hitam pun bisa memancarkan sinar-X dan sinar gamma.

Ada anggapan bila suatu saat mengerut sedemikian temperaturnya mencapai 100 quadrillion (1017), Lubang Hitam akan meledak. Penelitian terhadap Lubang Hitam kini bukan semata rasa penasaran terhadap obyek itu semata, tapi penerapan dan dampak dari teori mengenai keberadaannya. Bukan sekedar penelitian sifatnya saja, namun saling mengisi antara satu topik keilmuan dengan topik lainnya. Serta juga dari dampak dalam dunia mikrokosmos sampai ke makrokosmos. Terlebih saat ini, kandidat Lubang Hitam yang ditemukan makin banyak. Penemuan galaksi radio Cas-A dan Cyg-A, juga pemancar Sinar-X seperti CygX-1, ScoX-1 dan LMC-X-3. Selain itu adanya pulsar PSR1913+16, PSR0655+64 dan PSR0820+02 menambah kegairahan penelitian. Juga ada obyek eksotik lainnya yang diduga digerakkan oleh Lubang Hitam yaitu Quasar (quasi-stellar radio sources) 3C48 dan 3C273 yang kecerlangannya 100 kali galaksi – namun ukurannya hanya 10–6 kali radius Bima Sakti (yang sejenis adalah Blazar). Atau penemuan galaksi aktif M87 dan SS433 mengarah kepada indikasi yang sama. Saat ini yang sedang diburu adalah keberadaan gelombang gravitasi (orde 10–18) dengan Laser Interferometer Gravitational-Wave Observatory (LIGO), dan rencananya tahun 2010 dibangun Laser Interferometer Space Antenna (LISA). Sementara yang terlibat dalam riset mengenai Lubang Hitam yang penuh misteri ini semakin banyak. Mungkin suatu saat pada masa mendatang, salah satunya anda sendiri.

Daftar Pustaka Beiser, A., 1983, Konsep Fisika Modern (Diterjemahkan oleh The Houw Liong, penerbit Erlangga, Jakarta.). p. 1 – 99. Hawking, S.W., 1993, Black Holes and Baby Universes and Other Essays, Bantam Press, London. p.33–125. Hawking, S.W., 1988, A Brief History of Time : From the Big Bang to Black Holes, Bantam Books, New York. Shapiro, S.L. dan Teukolsky, S.A., 1983, Black Holes, White Dwarfs, and Neutron Stars : The Physics of Compact Objects, John Wiley & Sons, Inc., New York. p.335-449. Thorne, K.S., 1995, Black Holes and Time Warps : Einstein Outrageous Legacy, Papermac, London. Wospakrik, H.J., 1987, Berkenalan dengan Teori Kerelatifan Umum Einstein dan Biografi Albert Einstein, Penerbit ITB, Bandung. Salam w-dms/ayn/hdrw

Selamat tuk anggota haaj, fosca, polaris, sirius yang kini sudah jadi mahasiswa baru, namun inget - rekan seangkatan anda yang berjumlah tidak terbayang masih banyak yang belum dpt rizki tsb baik karena kalah berkompetisi dlm test maupun karena urusan dana yang terbatas (yang blm tentu kalah berkompetisi kalaulah ber-kesempatan untuk ikut). Empati ini baiknya dimunculkan selama kuliah, selain itu bimbing adik2 anda dan tetap bina relasi dengan teman2 lama anda (jangan katakan anda tidak punya waktu untuk hal seperti ini). Oya, minggu depan saya berharap dapat bertemu peserta science camp di p pari. Tuk peserta OSN Astronomi DKI, terima kasih atas segala pelajaran yang saya terima selama pelatihan yang sangat melelahkan dan mohon maaf saya kehabisan amunisi di saat2 akhir. Tuk Hendra, happydent free sugar-nya belum dapet nih .. ufzZ .. but I’ll try & thx. Tuk Faisal, ada bantal atau ga ternyata ga ngaruh ya. Si An.., jangan sering tebar aroma tuh, hendra lapor. Kalian semua baik. Thx.

Popular Posts