Terima Kasih
Pertemuan Rutin - 18 April 2009
Terima Kasih
Report of 100 Hours of Astronomy in Jakarta - 03-05 April, 2009
Pengamatan Umum
Berikut ini adalah sedikit dokumentasi dari kegiatan di atas.
Tampak salah seorang peserta sedang mengamati Wajah Permukaan BulanCredit: nurdin
Selain mengamati Bulan, pengunjung juga diberikan informasitentang kegiatan astronomi di Indonesia. Credit: ronny
Workshop
Banyaknya percobaan-percobaan yang berhubungan astronomi, diharapkan para peserta dapat menerapkan atau mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh yang sederhana adalah tentang gerak matahari selama satu tahun di langit yang dapat membantu kita untuk menjemur pakaian agar terkena sinar matahari langsung. Materi percobaan astronomi yang dibahas pada kegiatan ini meliputi penentuan arah utara dan selatan langit yang sebenarnya, penentuan titik terbenam dan terbit matahari, penentuan lintang dan bujur pengamat, dan lain lain.
FOSCA sebagai koordinator dari kegiatan ini dan dibantu oleh HAAJ sebagai pendamping kegiatan, melibatkan sekitar 50 peserta yang mayoritas adalah kalangan siswa menengah atas di kawasan Jabodetabek.
Berikut ini sedikit dokumentasi dari kegiatan di atas.
Peserta diberikan materi mengenai percoban-percobaan astronomi sederhana.Credit: indra
Peserta diberikan penjelasan mengenai prinsip Alt-Azimuth pada teleskop.Credit: indra
Talkshow (Pertemuan Rutin HAAJ)
Dalam kenyataannya, materi kosmologi adalah materi yang cukup berat untuk dipahami. Namun, pada pertemuan ini materi tersebut disampaikan secara sederhana agar mudah dipahami oleh peserta pertemuan. Secara umum kosmologi adalah ilmu yang mempelajari alam semesta dalam skala besar, namun secara khusus kosmologi mempelajari asal mula dan evolusi dari alam semesta.
Jumlah peserta yang hadir pada acara ini sekitar 60 peserta yang mayoritas masih dari siswa sekolah menengah atas di kawasan Jabodetabek. HAAJ sebagai koordinator dan dibantu oleh FOSCA sebagai tim partner telah menjalankan kegiatan ini dengan tuntas hingga waktunya.
Berikut ini sedikit dokumentasi dari kegiatan di atas.
Pertemuan rutin yang berupa Talkshow dihadiri sekitar 60 pesertayang mayoritas adalah para pelajar. Credit: ronny
Dengan kegiatan berupa talkshow, diharapkan peserta lebih interaktif dalammenanyakan masalah-masalah seputar astronomi. Credit: ronny
Star Party
Kondisi langit yang berawan sejak sore hari membuat peserta sedikit kesal dan berharap langit dapat menampakkan paling tidak Bulan dan Planet Saturnus. Dengan dipandu oleh Rayhan dan Ronny dalam mencari objek Bulan dan Planet Saturnus dengan menggunakan teleskop Coude yang tanpa finder (pembidik), akhirnya Planet Saturnus dapat tertangkap oleh medan pandang teleskop dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk mencarinya. Planet Saturnus beserta satelitnya yaitu Titan, dapat terlihat jelas dengan teleskop Coude. Namun sayang moment tersebut tidak dapat didokumentasikan dikarenakan cepatnya awan yang bergerak menutupi Planet Saturnus. Sehingga objek pun dialihkan ke bintang-bintang yang tampak pada saat itu. Masih berharap untuk dapat melihat Saturnus beserta satelitnya, tetapi harapan tersebut kandas ditengah jalan karena awan yang semakin tebal menutupi disekeliling saturnus. Sambil menunggu langit terbuka kegiatan dialihkan dengan pemutaran film, namun terdapat juga beberapa peserta yang berdiskusi tentang astronomi.
Lepas dari pukul 01.00 WIB peserta sudah tampak lelah dengan rutinitas dari pagi hingga malam hari. Sehingga terdapat beberapa peserta yang meng-istirahatkan diri untuk kegiatan pagi harinya.
Setidaknya sekitar 50 peserta yang hadir pada acara ini yang mayoritas masih dipegang oleh kalangan siswa sekolah menengah atas di kawasan Jabodetabek.
Berikut ini sedikit dokumentasi dari kegiatan di atas.
Tampak salah seorang peserta sedang mencoba mengarahkanteleskop ke objek benda langit. Credit: indra
Disisi lain para peserta juga menggunakan mini teleskop "You are Galileo"untuk mengamati benda langit. Credit: indra
Sun Day
Berikut ini sedikit dokumentasi dari kegiatan di atas.
Beberapa peserta sedang mencoba menentukan lintang kota Jakartadengan menggunakan bayang-bayang matahari. Credit: ronny
Tampak seorang peserta sedang mencari matahari yang terhalang oleh awan tipis.Credit: ronny
Suasana saat peserta sedang bergantian untuk melihat matahari dari teleskop Coude.Credit: ronny
---------- aquila ----------
100 Jam Astronomi - Event Astronomi
Memperingati kegiatan 100 Jam Astronomi (100 Hours of Astronomy) yang merupakan rangkaian kegiatan dari International Year of Astronomy - IYA 2009, Himpunan Astronomi Amatir Jakarta beserta beberapa Klub Astronomi dan Komunitas KIR di wiliyah Jabodetabek (sebagai tim partner) ikut berperan serta dalam memeriahkan kegiatan ini. Acara yang dimulai sejak hari Jumat hingga Minggu, diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya Pengamatan Umum, Pertemuan Rutin, Star Party, Pemutaran Film, dan Pengamatan Matahari.Adapun jadwal kegiatan dapat di download di sini.
Gambaran Kegiatan
Hari, tanggal : Jumat, 3 April 2009
Waktu : 18.00 s.d. 21.00 WIB
Lokasi : Dak Takahashi - Planetarium & Observatorium Jakarta
Kegiatan meliputi pengamatan benda langit dengan teleskop portabel, pemotretan, dan diskusi astronomi.
Hari, tanggal : Sabtu-Minggu, 4-5 April 2009
Waktu : 16.00 s.d. 12.00 WIB
Lokasi : Planetarium & Observatorium Jakarta
Kegiatan meliputi Pertemuan Rutin, Workshop perakitan teleskop You are Galileo, Star Party, Pemutara Film, dan Pengamatan Matahari.
Peralatan yang perlu dibawa bagi peserta "100 Hours of Astronomy" adalah sebagai berikut:
- Peta langit
- Alat tulis, dan
- Kelengkapan pribadi
-------------- aquila --------------
SEKILAS LUBANG HITAM - Edisi 1
Gambar artistik dari Black Hole. Credit: Himastron ITB
Lagi semangat bongkar lemari, kebetulan ada corat coret tulisan tentang Lubang Hitam. Sayang kalau tidak dijadiin dan didongengin, walau sudah lamaaa banget. Anggap oleh-oleh waktu Talk Show di Aula Barat ITB dalam rangka World Space Week 2001 dan “50 Tahun Pendidikan Astronomi di Indonesia”.
Jagad raya menyimpan banyak misteri mencengangkan. Salah satunya adalah Lubang Hitam (Black Hole) yang seolah tidak ada habisnya diteliti bahkan sejak ratusan tahun lalu. Benda ini telah disinggung sejak Michell (1783) yang menyatakan bahwa bila bintang sedemikian kompak (kerapatannya sangat besar) dan gravitasinya besar, maka cahaya pun tidak akan bisa lepas darinya. Juga Laplace (1795) secara terpisah mengemukakan hal yang sama walau di buku cetakan berikutnya – ide ini dihilangkan karena dianggap satu kegilaan. Keduanya sebenarnya hanya meneliti dampak atau konsekuensi logis dari hadirnya teori gravitasi Newton (1686).
Pada tahun 1905 muncul Einstein dengan Teori Relativitas Khusus yang mempermasalahkan kerangka acuan dalam kontek ruang-waktu. Sifat dualitas cahaya lebih dimengerti setelah Einstein merumuskan Teori Relativitas Umum yang membahas masalah gravitasi (1915; lintasan cahaya dipengaruhi medan gravitasi dan terbukti ketika terjadi Gerhana Matahari Total – 29 Mei 1919).
Banyak tokoh setelah itu yang berusaha meneliti Lubang Hitam secara matematis. Sebut saja seperti Schwarzschild (1916, radius Schwarzschild) disusul Eddington (1926, struktur bintang), Fowler (teori degenerasi), Chandrasekhar (1930, limit massa katai putih) yang memperoleh hadiah Nobel tahun 1983. Sementara itu tanggal 27 Oktober 1927 diadakan konferensi di Brussel yang membahas teori kuantum (lahirnya mekanika kuantum). Di antara mereka yang ikut konferensi adalah Planck, Einstein, Bohr, Schrodinger, Pauli, Heisenberg, Dirac, de Broglie, Born (semua nantinya menerima hadiah Nobel). Teori-teori mereka ternyata sangat berguna bahkan menjadi dasar dalam menelaah benda yang kita bahas di sini. Bagi yang mempelajari ilmu fisika (juga yang lagi pusing belajar fisika) tentu sudah akrab dengan nama-nama tersebut.
Tahun 1932 Chadwick menemukan partikel neutron. Penemuan ini menggiring pada lahirnya konsep bintang neutron sebagai hasil supernova oleh Baade–Zwicky–Landau (1934); juga Hubble (1936) yang terkenal pula dengan teori “Big Bang”–nya, bahkan namanya diabadikan untuk nama teleskop. Teori lubang hitam pertama yang memasukkan secara rinci Teori Relativitas Umum tahun 1936 adalah Oppenheimer–Snyder. Dengan perhitungan Carter–Kerr dan Reissner–Nordstrom tahun 1963, akhirnya muncullah istilah Black Hole untuk pertama kalinya oleh Wheeler tahun 1967 dalam salah satu makalahnya. Setelah itu, penelitian terhadap Lubang Hitam semakin gencar.
Sementara cerita sejarahnya dulu ya. Berikutnya tentang Riwayat Hidup Bintang. Kira-kira bagaimana tuh proses terbentuknya Lubang Hitam dan seperti biasa – daftar pustaka menyusul ya. Siip.
salam wr.
Popular Posts
-
LAPORAN HASIL PENGAMATAN HILAL RAMADHAN 1434 H HIMPUNAN ASTRONOMI AMATIR JAKARTA PANTAI ANYER, BANTEN – 08 JULI 2013 Hasil foto m...
-
Abstrak Pada era yang kita katakan modern saat ini, perkembangan astronomi di dunia sudah semakin maju. Sementara itu, perkembangan...
-
HAAJ akan mengadakan Star Party kembali, dimana pada Star Party ini merupakan Star Party pertama di tahun 2013 ini, yang berarti pula ...
-
Ilmu Astronomi sudah sejak lama dikenal di Indonesia dan masih berkembang hingga sekarang. Namun di tengah perkembangannya, ilmu ini ...
-
Pertemuan Rutin Dwimingguan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) edisi ke-limabelas di tahun 2013 Universe Al-Qur’an mer...
-
Pertemuan Rutin Dwimingguan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) edisi ke-empatbelas di tahun 2013 Hilal. Kredit : HAAJ ...
-
1. Kaos Astronomi Kaos-kaos Bertemakan Astronomi ada di sini.. untuk pemesenan bisa melalui 085714655720 . Bahan Kaos Combed 20s ...
-
Sesi Foto terakhir sebelum kembali kerumah masing-masing. Kredit : Reza Cerita Perjalanan dari Atala - 8 Tahun Ingatan Atala di Pu...
-
Sesi Foto terakhir sebelum kembali kerumah masing-masing. Kredit : Reza Cerita Perjalanan dari Aidell Fitri Aidell Fitri (Kanan) ...
-
Pertemuan Rutin Dwimingguan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) edisi ke-tigabelas di tahun 2013 International Space Statio...

