Materi : Planet-Planet dalam Tata Surya Pemateri : Vinsensius Tanggal : 31 Januari 2009
Ramai juga, padahal sampai jam 05.15 pm baru beberapa kursi yang terisi... lama-lama penuh juga. Sore ini banyak makanan, hehehe....
Pertemuan kedua di bulan Januari adalah tentang planet, dengan pembahasan khusus tentang kedelapan planet yang ngelilingi matahari. Materi ini masih menjadi materi rutin dalam pertemuan HAAJ dwi mingguan, karena berdasarkan poling di akhir tahun 2008 materi tentang tata surya ternyata masih banyak diminati. Oleh karena itu Tata Surya di bagi menjadi 2 sesi, yaitu Tata Surya I, tentang planet dan Tata Surya 2, tentang Matahari Sebagai Bintang (Pertemuan: 14 Febuari 2009).
Planet? mengapa benda-benda langit yang mengelilingi matahari disebut dengan planet? kenapa bukan skutel (hehehe... kebetulan Dino ulang tahun dan bawa skutel), atao apa ya... - sudah dari dulu kali ya... ?! Di dalam Bahasa Indonesia istilah planet juga saduran dari bahasa inggris yaitu "Planet". Heemmm... secara Etimologinya, planet berasal dari bahasa latin yang berarti "Pengembara". Orang zaman dahulu kan suka melihat langit, soalnya belum ada TV, naaahh... kegiatan mereka cuma stargaze, lalu mereka melihatnya sebagai bintang yang berpindah-pindah tempat relatif terhadap bintang yang lain. Kemudian disepakatilah namanya PLANET sama orang Yunani zaman dulu...
Sejak tahun 2006, Pluto bukan dianggap sebagai planet lagi, jadi umur Pluto sebagai planet cuma 76 tahun... hehehehe.. mirip umur rata-rata manusia ye.... Ketika Pluto ditemukan, orang tidak begitu meributkan definisi tentang planet, pokoknya semua benda yang lebih besar daripada asteroid disebut dengan Planet. Kebetulan asteroid terbesar, yaitu CERES jauh lebih kecil daripada Pluto. Akan tetapi pada tahun 90-an yaitu sejak banjir penemuan objek-objek di Sabuk Kuiper yang sekarang terkenal dengan nama planet Katai (Dwarft Planet), para astronom profesional mulai mempermasalahkan definisi planet. Ter-eliminasilah Pluto sebagai planet. Kecewakah Clyde Tombaugh ? kkk....
Secara ukuran, planet-planet yang ngelilingi matahari dibagi menjadi 2, yaitu planet Terestrial (merkurius, venus, bumi, dan mars) dan planet Jovian (Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus). Masing -masing mempunyai ciri-ciri yang berbeda. Dan Sampai saat ini hanya planet Bumilah yang dapat dihuni oleh manusia.
Arrizza sebagai moderator (kiri), Vinsensius sebagai Pemateri (kanan)
Peserta yang Hadir pada pada Pertemuan Rutin HAAJ Ke-2
Serpihan Catatan Perjalanan, Hadiah Untuk Seorang Sahabat
Fenomena Gerhana Matahari Cincin (GMC) pada hari Senin tanggal 26 Januari 2009 memang sudah berlalu, namun kesan mendalam mungkin dialami oleh segelintir orang yang berhasil menikmatinya. Baik saat menanti kejadiannya, ketika menyaksikan, dan rasanya tidak percaya bahwa fenomena itu sudah berakhir dihadapannya.
Kami ber-30, team UNAWE (Universe Awareness) Indonesia, HAAJ (Himpunan Astronomi Amatir Jakarta), dan Planetarium Jakarta berangkat ke lokasi yang menjadi pilihan kami, yaitu MTs Negeri Anyer. Yang terlintas di benak bahwa dalam mengabadikan peristiwa yang cukup langka ini adalah tidak saja sekedar menjadi penikmat fenomena, melainkan berbagi ilmu kepada para siswa dari tingkat TK, SD, SMP, dan SMA. Juga guru dan orang tua siswa, ataupun masyarakat sekitar yang kebetulan tahu dan mendapat izin dari pihak tuan rumah untuk turut dalam kegiatan yang berlangsung selama 2 hari (Minggu – Senin).
Di sini, HAAJ dipercaya sebagai team perintis. Berangkat ke Anyer sehari lebih cepat untuk membantu tuan rumah dalam persiapan, termasuk ketersediaan jaringan internet. Hal ini karena MTsN Anyer dipilih sebagai salah satu titik untuk “streaming” GMC via internet dimana Observatorium Bosscha sebagai koordinator nasional. Seluruh kegiatan kami ini juga sebagai salah satu agenda nasional terkait dengan dicanangkannya tahun 2009 sebagai Tahun Astronomi Internasional (IYA) oleh Perserikatan Bangsa Bangsa.
Kegiatan kelas dimulai hari Minggu melibatkan tidak kurang dari 160-an perwakilan siswa tingkat SMP/SMA se-kecamatan Serang, ditambah puluhan guru pendamping. Nyatanya banyak pula guru/siswa TK/SD, juga orang tua siswa yang setia berdiri di luar kelas untuk mengikuti acaranya. Diawali jam 11 untuk melihat film astronomi, yang lalu secara resmi pihak tuan rumah membuka acara pada jam 13. Setelah sesi ceramah astronomi populer dari Planetarium Jakarta, acara diisi dengan workshop yang dikoordinir team HAAJ. Workshop ini meliputi pembuatan Sundial (Jam Matahari), Ocean Solaris (melihat proses yang menirukan gejala yang terjadi di permukaan Matahari), mengukur diameter sudut matahari menggunakan teleskop, dan membuat roket air. Khusus roket air, para siswa dilatih untuk membuatnya dan hasilnya langsung dipraktekkan di lapangan terbuka. Acara ini menjadi hiburan tersendiri dengan suasana keceriaan yang sangat dari para guru/siswa. Sesi hari Minggu diakhiri dengan observasi malam memakai 3 teleskop dan beberapa binokuler (kekeran) hingga jam 20:30.
Suasana langit cerah membuat kami sempat bingung, semua obyek langit indah adanya – jadi yang mana yang hendak dilihat? Dengan mata bugil pun beberapa kelompok yang terbentuk secara spontan berhasil mengenal rasi bintang zodiaknya. Sementara obyek standard seperti Sang Bintang Kejora planet Venus yang bahkan telah terlihat sebelum hari menjadi malam, gugus terbuka Pleiades, nebula Orion di Lintang Waluku, Gugus Hyades di wajah Sang Banteng Taurus, sudah semua mendapat giliran. Akhirnya beragam benda langit pun dilihat disertai penjelasannya. Bahkan ketika 2 kali satelit (buatan) melintas dan dapat diindra dengan kasat mata, itupun membuat ketakjuban siswa. Keriangan demi keriangan terjalin. Para siswa terus bertahan bahkan sampai harus diperingati lewat pengeras suara untuk segera pulang. Beberapa siswa yang bertahan bahkan pulang didampingi para guru. “Lumayan” untuk memuaskan dahaga para peserta observasi. Sementara sebagian dari kami pada saat bersamaan sudah berkutat dengan persiapan acara esok hari, terlebih bagi HAAJ yang harus pindah penginapan.
Pada hari Senin, 200-an peserta perwakilan siswa tingkat TK/SD mendapat giliran dikoordinir team UNAWE. Jam 9 dimulailah acara melihat film dan cerita astronomi, yang disusul kegiatan mewarnai untuk tingkat TK, permainan ular tangga bertema wajah langit, origami, puzzle, permainan kuartet berhias gambar benda langit, dan menonton planetarium mini berkubah 3 meter. Kembali secara resmi acara dibuka jam 13, sekaligus pemberian cindera mata berupa materi penyuluhan yang salah satunya adalah teleskop “You Are Galileo” ke pihak tuan rumah. Ceramah yang disampaikan dari Planetarium Jakarta sebagai pembuka - utamanya tentang gerhana Matahari dan bagaimana cara melihat yang aman. Kegiatan ini juga diikuti peserta SMP/SMA yang telah ikut sehari sebelumnya, namun dengan terpaksa pada sesi kelas gantian mereka yang menyimak dari luar ruang kelas.
Saat menegangkan terjadi sekitar jam 15, ketika proses gerhana akan mulai. Team streaming (sedemikian proses GMC dapat diikuti via jaringan internet secara langsung) siap me-relay data dikomandani Pak Yudi, sementara 5 teleskop sudah digelar oleh team gabungan. Harap-harap cemas akan cuaca buruk sirna karena kondisinya ternyata sangat memungkinkan untuk pengamatan. Akhirnya, silih bergantilah para peserta menikmati sajian dari langit di bawah terik Sang Surya. Peserta pengamatan terus bertambah, termasuk para guru dan masyarakat sekitar. Semua tertib dan sabar. Ketika tiba saat puncak GMC, spontan di lapangan terbuka berkumandanglah gema takbir “Allahu Akbar, Allahu Akbar”, saling bersahut diselingi riuh rendah aneka ucapan ekspresi dan gemuruh tepuk tangan yang bergema di lapangan MTsN Anyer. Selang beberapa menit setelah lewat fase puncak GMC, para peserta berduyun-duyun menyelenggarakan shalat gerhana di mesjid sekolah sebelum kembali menikmati fenomena langka tersebut.
Pada gilirannya di penghujung acara yang cukup mengharu biru, kami semua menarik nafas lega. Selain kegiatan berlangsung mulus sesuai rencana dimana keletihan seolah terbayar tuntas; ada sejumput perenungan ketika seluruh peserta pulang selepas Maghrib termasuk 2 mobil HAAJ yang sudah kembali terlebih dahulu ke Jakarta. Saat itu di kejauhan tampak anggota UNAWE dengan 2 mobilnya sedang berkemas untuk kembali ke Bandung. Bintang Kejora mulai menampakkan wajahnya yang berbinar penuh senyuman dan Lintang Waluku pun tak mau kalah dengan pendarannya yang merambah kegelapan langit malam, sementara di sudut mata begitu gemulainya Bedaya Ketawang Sang Lintang Kartika menunjukkan jati dirinya; sementara kami bertiga (R-W-R) duduk di tengah lapangan yang telah kosong; gumaman pun terlontar “tidak ada pesta yang tidak berakhir”. Teringat juga saat membuat makalah pertemuan bertema kosmologi dan saat seperti inilah rasanya menjadi sebuah undangan untuk sejenak berkontemplasi, untuk “minimal” lebih mengagumi dan menghirup dalam-dalam aroma samudra rahmat yang begitu indah. Nun jauh dari kebisingan hiruk pikuk kota. Dari persiapan kegiatan hingga akhir pelaksanaannya, ibarat menghadapi sebuah hadiah ulang tahun yang masih terbungkus rapi, penuh dengan indahnya harapan yang akan melahirkan kejutan saat dibuka. Semoga “hadiah” ini membawa berkah setelahnya. Apapun yang terjadi, perpisahan tidak dapat dihindari. Tentu berharap pada fenomena astronomi berikutnya, itupun kalau uluran usia masih menjadi anugrah dari-Nya.
Pada momen seperti ini, rasanya untaian kata (ataupun rumusan matematika, dsb) menjadi tidak bermakna, karena pada ujungnya adalah ”feel amazement” seperti yang diekspresikan oleh Albert Einstein, “The fairest thing we can experience is the mysterious.It is the fundamental emotion which stands at the cradle of true science.He who knows it not, and can no longer wonder,no longer feel amazement, is as good as dead.”
Setelah perencanaan sejak tahun kemarin, dan juga setelah persiapan yang tidak sebentar. Akhirnya HAAJ mempunyai kesempatan untuk dapat menyaksikan peristiwa Gerhana Matahari Cincin. Pada event tersebut HAAJ tidak hanya melakukan pengamatan saja tetapi juga mengadakan penyuluhan tentang materi Astronomi kepada anak-anak SMP, SMA, dan sederajat. Kegiatan penyuluhan dan pengamatan tersebut mengambil tempat di MTsN 1 Anyer selaku tuan rumah.
Hari Pertama
Kegiatan ini dimulai sejak dua hari sebelum peristiwa Gerhana Matahari Cincin yaitu pada tanggal 25 Januari 2009, pada kegiatan tersebut HAAJ tidak sendirian, melainkan bekerjasama dengan UNAWE Indonesia. Pada hari Minggu, 25 Januari, kegiatan dimulai untuk para siswa SMP, SMA, dan sederajat, mengenai penyuluhan tentang materi seputar astronomi yang dibawakan oleh Bapak Widya Sawitar selaku Narasumber, dan Rayhan selaku moderator. Para siswa tampak antusias dengan acara tersebut, ditandai dengan banyaknya respon berupa pertanyaan dari para siswa- siswi pada saat sesi tanya jawab.
Selepas penyuluhan mengenai Astronomi, acara dilanjutkan dengan kegiatan berupa Workshop Astronomi. Dimana HAAJ mengadakan Workshop yaitu mengukur Diameter Sudut Matahari, Sundial ( Jam Matahari ), Ocean Solaris ( Simulasi Permukaan Matahari ), dan Roket Air. Dimana para siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mengikuti kegiatan tersebut, dan dimasukkan kedalam kelas-kelas yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk kegiatan Workshop. Pada Workshop Astronomi tersebut UNAWE Indonesia turut membantu dalam kegiatan Workshop Astronomi tersebut. Seluruh rangkaian kegiatan pada hari tersebut ditutup dengan pengamatan malam, yg dihadiri oleh seluruh peserta penyuluhan.
Hari Kedua
Pada hari kedua, kegiatan dimulai dengan acara dari UNAWE Indonesia yang dikhususkan untuk siswa- siswi tingkat TK dan SD yang dimulai pada pukul 10.00 WIB. Pada kegiatan ini HAAJ menjadi tenaga pembantu dalam program UNAWE Indonesia tersebut. Pada kesempatan tersebut tim UNAWE Indonesia membuat kegiatan berupa Permainan Ular Tangga Raksasa, Planetarium Mini, Cerita/Dongeng Astronomi, dan Workshop Roket Evervecent. Keseluruhan kegiatan berlangsung baik dan lancar, walaupun terdapat keterbatasan waktu dalam seluruh acara tersebut. Setelah itu kegiatan penyuluhan dilanjutkan dengan acara Talkshow Astronomi tentang "Gerhana Matahari Cincin" yang dimulai pada pukul 13.00 WIB, dengan Bapak Widya Sawitar sebagai narasumber. Acara Talkshow pun berlangsung cukup meriah.
Setelah Talkshow Astronomi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Pengamatan Gerhana Matahari Cincin yang dimulai sekitar pukul 15.00 WIB. Pengamatan Gerhana Matahari Cincin Menggunakan 4 Teleskop, 3 Teleskop dari HAAJ dan 1 Teleskop dari UNAWE Indonesia yang digunakan untuk Streaming ke TV. Beberapa dari peserta dan panitia juga ada yang menggunakan kacamata matahari rakitan. Fase Gerhana Matahari Cincin pada kontak awal terjadi sekitar pukul 15.20. Seluruh rangkaian kegiatan penyuluhan dan pengamatam GMC pun berakhir saat gerhananya telah mencapai kontak akhir. Dan, pada pukul 17.30 WIB semua peserta telah beranjak pulang.
Berikut beberapa dokumentasi pada saat kegiatan penyuluhan di MTs Negeri Anyer:
Peserta SMP dan SMA Sederajat
Peserta TK dan SD Sederajat
Tim Roket Air dan Sundial Berpose Setelah Workshop Selesai
4 Kegiatan Workshop HAAJ yang Diadakan di MTs Negeri Anyer
Pengarahan di Lapangan MTs Negeri Anyer dari salah satu Tim HAAJ
Pengamatan Menggunakan Teleskop Sangat Diminati Peserta Penyuluhan Astronomi
Salah Satu Kegiatan Dari UNAWE Indonesia yaitu Workshop Roket Evervecent.
Pada tanggal 26 Januari nanti akan terjadi peristiwa astronomis yang sangat jarang terjadi, GMC (Gerhana Matahari Cincin) akan terjadi di wilayah Lampung, sedikit bagian Barat Pulau jawa, Kalimantan, dan sedikit bagian Utara Sulawesi. Untuk wilayah Jakarta Gerhana Matahari tidak berbentuk cincin melainkan Parsial (sabit).
Peristiwa ini disebut Gerhana Matahari Cincin (GMC) karena piringan Matahari tidak akan sepenuhnya tertutup oleh bayang-bayang Bulan, sehingga pada wilayah yang dilewati GMC, Matahari akan tampak seperti cincin. Pada momen GMC 26 Januari 2009 ini, bayang-bayang utama (umbra) Bulan yang jatuh di permukaan Bumi hanya seluas 280 km, sehingga tidak seluruh tempat berkesempatan untuk menyaksikan fase cincin. Momen puncak gerhana sendiri hanya berlangsung kurang dari 8 menit.
Tahun 2009 telah dinyatakan sebagai International Year of Astronomy (Tahun Astronomi Internasional) oleh Sekjen PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Upacara pembukaan Tahun Astronomi Internasional mengambil tempat di Paris, 15-16 Januari 2009, dibawah perlindungan PBB, UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation), IAU (International Astronomical Union). Acara ini juga didukung oleh sejumlah sponsor termasuk Prancis dan organisasi internasional dan institusi.
Sekitar 600 peserta diharapkan, diantaranya ilmuwan istimewa (termasuk pemenang Hadiah Nobel), dan juga sekitar 200 siswa dari sekitar 100 negara, ikut serta pada International Year IYA2009.Kehadirannya hanya untuk undangan saja.
Dalam rangka menyambut Tahun Astronomi Internasional (International Year of Astronomy - IYA 2009), pada permulaan di tahun 2009 ini dilaksanakan sebuah pengamatan matahari akbar yang dilaksanakan pada tanggal 1 Januari jam 12.00 waktu setempat di seluruh dunia.
Kita memulai acaranya pukul 10.00 WIB, kegiatan dimulai dengan presentasi tentang profil Club Astronomy Polaris SMAN 38. Pada kesempatan tersebut CASPOL (Castro Polaris) memberikan sebuah tanda mata berupa sebuah jaket CASPOL SMAN 38 yang diserahkan oleh guru pembina CASPOL SMAN 38 kepada Bapak Widya Sawitar. Setelah presentasi selesai kegiatan dilanjutkan dengan pengamatan matahari yang dimulai pukul 11.30. Langit mulai tertutup awan selepas acara pengamatan matahari selesai sekitar pukul 13.00 waktu setempat.
Dokumentasi kegiatan dapat di lihat di bawah ini :
Kak Nurdin selaku moderator saat
presentasi CASPOL SMAN 38
Ketua CASPOL SMAN 38 sedang menjelaskan
tentang profil & program kerja CASPOL SMAN 38
Serah terima tanda mata dari CASPOL SMAN 38 Jakarta
Perakitan teleskop untuk pengamatan matahari
Salah seorang dari senior HAAJ sedang mengarahkan teleskop ke matahari